Posts

Showing posts from 2017

Berproses

Oke, dalam rangka rehat sejenak dari segala jenis perskripsian dan konco-konconya. Saya pun memutuskan untuk membuat tulisan ini. Jadi kemarin saya ceritanya sedang dikejar deadline untuk 2 proposal skripsi yang harus saya selesaikan dalam minggu ini—Oke gapapa, sepertinya saya memang tidak bisa lepas dari mereka. Dan hal itu harus memaksa saya menyingkirkan ego saya untuk menyenangkan diri. Saya pun menyendiri ke perpustakaan dengan tekad untuk menyelesaikan skripsi yang terhormat itu hari itu juga. Namun karena di perpustakaan tidak ada mushalla. Saya pun pulang ke kostan untuk menunaikan ibadah shalat zuhur. Nah kemudian setelah selesai saya balik lagi ke perpustakaan. Namun di pintu masuk saya nge-freeze sebentar, tiba-tiba saya jadi males masuk. Saya orangnya cepet bosen gitu lho. Jadi sebenarnya memang cara paling tepat untuk saya belajar adalah moving class , atau kelas outdoor . Akhirnya saya pun memutuskan untuk mengerjakan di halte kampus. Fyi, halte kampus yang saya...

Ditelfon Temen

Image
“Teman yang baik bukan teman yang sekedar membenarkan, tapi yang berani mengingatkan kita akan kebenaran.” Kemarin saya dikejutkan oleh panggilan seorang teman lama (semoga ia diberkahi Allah). Yang lebih mengejutkan adalah ketika dalam sambungan telfon berdurasi 50 menit 50 detik itu ia memilih menghabiskannya dengan membahas kematian. “Kamu pernah dengar? Salman Alfarisi pernah berkata seperti ini, ‘Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tidak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya.’” Subhanallah. Kamu tahu, entah kenapa sekarang saya jadi takut jika tiba-tiba mati, saya takut diambil dalam keadaan ketika saya tengah senang-senangnya dengan dunia. Melihat berita-berita seperti kemarin, yang orang sehabis dari musholla bisa na’as meninggal dibakar. Atau orang yang baru...

Merantau

Merantau itu, Bukan sekedar berpindah tempat Merantau itu, Konsensus damai mu atas keadaan Ketika kau tidak lagi bisa dengan mudahnya melihat senyum Ibu setiap hari Ketika makanan yang kau makan pertama kali setiap pagi adalah bukan lagi masakan wanita yang telah memasaki jutaan makanan mu sejak engkau lahir Ketika sendiri bukan lagi sebuah kata, tetapi teman Ketika kau mencoba mencari-cari hal yang bisa kau lakukan untuk membunuh waktu, membunuh rasa rindu Akan masakan Ibu setiap hari Akan berita di televisi yang kau tonton bersama Ayah setiap pagi Akan guyonan saudara-saudaramu yang walaupun receh tapi selalu bisa membuatmu tersenyum ketika sedih Akan kehangatan rumah yang selalu menjadi candu yang membuat mu ingin kembali Lagi Merantau, Lagi-lagi bukan sekedar kata berawalan m dan berakhiran u Namun sebuah kesepakatan antara ingin dan rindu mu

Keresahan

Beberapa minggu dirumah benar-benar membuat saya mempunyai waktu untuk diri saya sendiri. Berkontemplasi tentang eksistensi diri saya sebagai manusia, sebagai anak, sebagai peserta didik, maupun sebagai pendidik. Saya tidak tahu apakah ini hal yang biasa dialami oleh anak seumuran saya atau tidak. Yang pasti hal ini membuat saya sedikit tertekan. Saya merasa tidak ada yang harus saya lakukan lagi, asa itu telah mati, jiwa veteran saya terlalu cepat menyambangi. Saya telah lelah atas semua kepura-puraan ini. Atas semua kerja keras siang dan malam yang telah saya lalui hanya demi angka-angka berskala 4 yang muncul di portal mahasiswa. Atas semua stories dan feeds  yang saya unggah di instagram. Atas semua kegiatan yang saya ikuti untuk sebuah kertas linen atau concord bertuliskan nama dan pengaruh saya. Atas semua kerja keras yang saya lakukan untuk bisa makan enak di restoran multinasional atau memakai product dari brand ternama. Saya lelah. Kemudian saya memutu...

Siap?

Hari ini aku mendapatkan satu konklusi besar bin menohok dari sebuah diskusi kecil. Ketika aku dan seorang teman sedang mendiskusikan sesuatu terkait proses ber-Islam. Si Teman tadi berkata, “Mari kita melupakan tentang alasan kita untuk tidak boleh mengupload foto diri kita dikarenakan jika dilihat oleh lawan jenis-maka dosanya akan mengalir ke kita sendiri selama foto tersebut masih ada-karena barangkali orang-orang mampu menundukkan pandangannya, barangkali.  Tapi coba kita intropeksi diri sendiri, ketika kita memutuskan untuk mengupload foto diri, pasti didasari oleh rasa bangga, pasti ada benih-benih ujub ‘kan?” Aku pun merespon, “Iya, memang hakikatnya seperti itu. Terkadang kita memang sudah tau apa konsekuensi dari sesuatu, tapi terlepas dari itu semua aku hanya belum siap untuk melakukan itu-untuk tidak lagi mengupload foto diri-sama hal nya dengan aku yang belum siap untuk memakai rok atau kemana-kemana, untuk menghafal quran, untuk bercadar, atau even untuk berhenti ...

Standar

Minggu kemarin saya ikut andil dalam sebuah project sebagai field surveyor dimana saya harus merampungkan beberapa data dengan objeknya yang adalah masyarakat kelas menengah-menengah kebawah-pada sektor informal. Ini merupakan salah satu pengalaman yang berkesan bagi saya. Selama itu saya mendapati diri saya yang amat sangat kurang peka. Hal  yang paling menohok hati adalah mendengar curahan  hati mereka yang mungkin belum pernah tersampaikan ke orang lain-- karena memang tidak ada tempat untuk itu . Mereka tidak mungkin menceritakan kesusahan mereka-untuk sekedar mengirim uang 1,5 juta ke kampung halaman-kepada anak dan istri mereka, while di perantauan mata pencahariannya cuman pedagang bakso, karena di dalam benak mereka biarlah itu yang menjadi beban mereka. Hal-hal itu yang akhirnya membuat saya semakin bersyukur dan membuat saya sadar bahwa hidup saya tidak seminus yang saya fikirkan hanya karena saya terlalu sering melihat ke atas. Saya pernah mendengar su...

Mari tebar kebaikan!

Mari saling mengingatkan dalam kebaikan! Teman 1 “Teringat suatu ketika lagi liburan SMA, kita lagi main dan ketawa-ketawa dan tiba-tiba ke bilang ‘Ke kapan pake kaos kaku dan kerudung dua lapis?’ Saat itu aku respon, ‘Hah? Wkwk kapan ya wkwk’, dan ke nilang ‘Sekarang yuk mah? Nanti aku ajarin gimana pake kerudung dua lapis, biar ngga tembus pandang dan pake kaos kaki supaya nutup aurat.’” Teman 2 “Tiba-tiba teringat nasihat dari seorang teman (dia pasti lupa pernah bilang ini, jadi kangen sharing bareng). ‘Apapun yang kita lakukan, pastikan itu menjadi ibadah kita kepada Allah. Belajar kah itu, Kerja kah itu, atau apapun bisa bernilai ibadah jika di niatkan untuk Allah .’” Teman 3 “Menurut dia, seseorang boleh selo asal ga lewat batas. Kita perlu selo-selo gitu untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Tapi kalo menyangkut "perasaan" orang lain, semuanya ga akan sesederhana itu.  PS: Queen,   if you're reading this, I want to say it was real...

A Long Late Night Conversation

Keterangan: + Gua - Seorang teman - Eh nilai lu berapa? + matakuliah X? B guaa - Lah sama kaya gua yg jarang masuk huhuhuy + ya kan gapapa. emang nilai masih berharga pas semua orang dapetinnya dengan cara ga jujur semua? wkwk - Sistem pendidikan dan mindset dunia pendidikan yg salah. Mendorong manusia utk berkompetitif hanya utk nilai yg menjadi tujuan hakikat...akibatnya banyak kaum intelektual bersaing dgn cara yg gakjujur demi mendapatkan tujuan tsb(nilai) dan tujuan tsb dapat menentukan masa depan secara tidak langsung + nah iya itu. gue sekarang jd muak sendiri wkwk bodoamat mau nilai gue berapa. ga penting. toh nilai sekarang gbs jd tolok ukur orang berilmu lagi. yang dapet A juga gua gayakin ilmu yg didapet lebih banyak dr yang dapet B atau C. dan gue gamau jd orang yggakjujur demi dapet tujuan "tsb". semua yg kita jalanin kan pilihan kita. ga perlu nyalahin sistem yang salah atau lain2. - Iya tapi suka atau nggak suka nilai masih jadi tolak ukur keberhasilan...

Guru

Jadi guru itu ternyata ngga semudah yang gue pikirin. Ngga semudah kritikan-kritikan gue terhadap guru SD, SMP, SMA, sampe dosen gue sekarang. *ya, gue emang hobby banget ngritik, kerjaan gue di dunia ini kalo ngga marah-marah ya ngritik, ngriktik diri sendiri, ngritik orang lain, semuanya deh* Gue baru sadar hal itu setelah gue memutuskan untuk apply jadi asisten instruktur di laboratorium jurusan gue. Ya Tuhan. Akhirnya gue tau rasanya kesel pas lagi ngejelasin sesuatu tapi di belakang ada anak yang malah sibuk sendiri, atau maen hape lah, atau ngobrol hal yang ngga tau deh ntah sepenting apa sampe harus di omongin saat itu juga di kelas. Gue baru ngerti rasanya memaksakan diri supaya ngga makanin ego gue buat ngga masuk kelas karena kecapean atau pun karna suasana hati lagi ngga enak. Gue baru ngerti kenapa dosen-dosen gue suka ngomong “Tapi tetap, attitude itu point paling penting yang akan saya nilai. Karena tidak peduli seberapa pintar nya anda, kalo akhlak anda jelek, y...

Support

Hal yang paling gue sayangkan bagi diri gue yang sekarang adalah gue ngga pernah bisa seserius dulu pas belajar. Rasanya gue rindu sama semangat belajar gue dulu pas rentang waktu kelas 3 SMA sampe 2 semester awal di perkuliahan. Beda sama sekarang. Gue ngga tau kenapa gue susah banget buat memotivasi diri gue yang sekarang buat belajar. Terus gue mikir, apa karna support system nya yang kurang, jadi bikin gue kaya “yaudah lah ya” mulu. Dan setelah gue pikir-pikir ternyata support itu perlu. Banget. Gue inget kejadian kecil pas di stasiun. Waktu itu semua gerbong udah penuh banget, sampe ngga ada space buat penumpang masuk lagi. Gue masang muka bingung- sekaligus hopeless, karena kereta mau berangkat beberapa detik lagi. Tiba-tiba ada bapak2 yang ngomong setengah teriak ke gue, “ngga papa masuk aja masuk”, di saat yang sama di samping beliau muka penumpang lain secara eksplisit namun implisit menyiratkan “ jangan masuk sih, ngga liat apa ini udah penuh banget ”. Dan dengan r...

Curhat nih

gue kemaren itu mikir ya, buat apa gue terlalu ngejar sesuatu, kaya: gue harus belajar tiap hari, waktu main gue harus minim, gue ngga boleh leha leha lagi, dsb. mending gue nikmatin masa muda kaya yang orang-orang bilang. karena YOLO meen, you only live once.  masa mudakan gabakal bisa gue ulang lagi. makanya mulai saat itu gue turn into very santai and slowly person . gue jadi gasuka liat orang yang ambis. gue jadi gasuka liat orang yang gapunya waktu buat nyantai karena sibuk sama belajar, dsb. and lately gue realized ternyata paham "nikmati masa muda" yang gue anut selama ini ngga sepenuhnya bener. ternyata gue memang harus belajar keras. gue memang harus kurangi haha hihi gue. karena pencapaian yang tinggi itu memang membutuhkan usaha yang keras. alangkah bodohnya gue selama ini wkwk ibaratnya itu gue adalah orang-orang yang percaya investasi bodong yang dimana setiap orang even nginvest nya secuil, bakal dapet untung yang gede. dan ternyata itu salah. yang padah...

Kontemplasi 21

Ternyata menjadi tua itu tidak menyenangkan. Tidak seperti imajinasi yang gue ciptakan ketika kecil dulu. Menjadi tua itu membuat kita memikirkan hal-hal kecil yang terkadang tak perlu dipikirkan. Semakin tua manusia akan semakin detail. Setidaknya itu yang gue rasain sekarang. Akan ada semakin banyak beban yang bakal muncul tiba-tiba. Entah dari diri sendiri, ataupun bisa jadi dari orang lain. Social pressure. Memasuki umur 21 tahun juga membuat gue sadar kalau ada banyak hal yang harus gue pikirin dari sekarang. Hal yang menentukan akan bagaimanakah kehidupan gue nantinya. Dan memasuki umur 21 lo juga akan merasakan kalo perayaan itu tidaklah penting. Bahkan lo akan lebih memilih orang-orang ngga tau kapan hari ulang tahun elo. Kalo kata temen gue sih " there are many things to be thought in our birthday than just celebrating it ". Salah satunya ya lebih bersyukur. Mungkin gue udah berkali-kali ngomong tentang hal ini udah dari lama. But seriously, gue bahkan b...