Posts

Acc

Haluu~ Tadi siang gue baru mendengarkan salah satu kajian Ustadz Nuzul Dzikri hafidzahullahuta'ala tentang ketetapan Allah. Intinya adalah semua hal yang terjadi dalam hidup, setiap episodenya, baik yang kita sukai maupun tidak, pada prinsipnya sudah melalui proses acc dari Allah.  Terus gue jadi keinget kejadian praktikalnya di kantor. Kadang-kadang ada kebijakan dari atasan yang menurut kita ngga  make sense , terus kita saling berbincang nih sesama karyawan, "kok gitu yaa, terus kalo dibikin kebijakan gini kan ntar jadinya gitu ( the worst-case scenario -lah intinya)"  "yaa gatau tuh, udh di- acc ama si bos, yaudah mau gimana lagi" "yaudah deh kalo gitu   mah, ntar kan kalo ada apa2 si bos yang tanggung jawab ini" Kenapa dalam skenario itu, kita bisa segampang itu buat nerima — walau ngga selalu sih, apalagi kalo yang naon banget hmmm. Tapi  when it comes to sesuatu yang terjadi di hidup kita, kita merasa susah banget buat nerapin konsep yang sama...

Doa

 Haluu~ Tiba-tiba hari ini gue kepikiran buat nulis lagi. Seperti biasa pastinya, mengenai hal yang tidak penting hingga sangat tidak penting tentang hidup gue. Tapi rasanya yang kali ini rada penting, deh, karena gue pengen ngasi tau satu pelajaran hidup yang baru-baru ini gue dapet.   Gue baru tau, kalo ternyata semua hal itu reachable . Kedengaran agak membosankan. Memang. Tapi, beneran. You might never truly understand how it feels—unless you actually try . Coba deh, sekali, kalian taro tuh effort kalian (buat usaha, pasti) buat berdoa, like every single day and night . Coba setiap sujud kalian cerita apa yang menjadi kegelisahan kalian. Setiap tahajud kalian luapkan semua yang ngeganjel di hati beberapa hari ini. Dengan keyakinan bahwa cuman Allah doang nih yang bisa ngebantuin kalian. Bukan penguasa, bukan mentor kalian, bukan temen kalian, bukan orang tua kalian, bukan nenek yang jualan di warung depan rumah kalian, bahkan bukan diri kalian sendiri. Kalian ng...

Kasih ibu sepanjang masa kasih anak sepanjang galah (?)

It's 04.33 WIB, by the way. Hari ini saya kepikiran akan sesuatu.  Randomly saya kepikiran perihal muamalah orang tua-anak (dan vice versa ) dalam islam. Kita pasti sering mendengar tuntutan-tuntutan tentang berlaku baik terhadap orang tua. Birrul walidain adalah topik yang akan dengan sangat gampang dapat kita temui dalam sumber referensi manapun. Lalu kemudian timbul pertanyaan di otak saya nan sempit ini, ada ngga ya anjuran senada dari orang tua terhadap anaknya ? Dimulai lah perjalanan riset kecil-kecilan saya dengan mencari referensi terhadap kewajiban berperilaku baik terhadap orang tua lebih dulu. Dalam beberapa rujukan, kita dianjurkan (secara eksplisit) untuk berperilaku baik terhadap orang tua. Misalnya dalam beberapa dalil berikut: وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua ”.   (QS. An Nisa: 36) قُلْ تَع...

Pulang ngantor

Halo, Guiz! Jadi, di sore yang sendu nan bahagia ini gue pengen cerita sedikit tentang pemikiran filosofis (yaela~) yang gue dapet sepanjang perjalanan pulang gue dari kantor ke rumah.  Jadi, for your information , jarak antara rumah (kontrakan sih) gue ke kantor tuh memakan waktu sepuluh menit dengan rerata kecepatan 60 km/jam. Biasanya kalo ngejar absen pagi, gue bakal pergi dengan terburu-buru. Tapi kalo waktu pulang tuh jadi lebih santai karena ngga ada yang dikejar. Perlu kalian ketahui juga, kalo daerah tempat gue menetap itu jauh banget sama tipikal kota metropolitan, jadi gue takut kalian salah ngebayangin hahaha pokoknya karakter kota yang setiap saat kalian bisa aja ngelindes kucing, ayam, atau kambing, dan berpotensi tinggi dihadang oleh lembu-lembu~ Naah, jadi suatu hari pulang lah ni gue dari kantor seperti biasa yakan. Gue naek motor dengan kecepatan yang sangat sederhana alias alon-alon asal kelakon, karena emang performa motornya tuh di bawah rata-rata banget soalny...

Rumit

Halo, hari ketiga di bulan Juli. Kira-kira kenapa ya menjadi dewasa bisa serumit itu? Semakin dewasa, semakin banyak hal yang kita jadikan pertimbangan. Semakin dewasa, saya merasa proses pembuatan keputusan dalam hidup saya semakin tidak sederhana. Tidak seperti dulu. Rasa-rasanya tidak banyak variabel yang perlu saya pikirkan. Tapi sekarang, omongan orang pun rasanya bisa menjadi variabel yang pengaruhnya paling dominan.

Menjadi burung

Dulu saya pikir akan lebih baik kalo saya dilahirkan menjadi burung saja. Tapi ternyata, setelah saya pikir-pikir lagi, orang kaya saya ngga akan mampu untuk menjalani kehidupan seekor burung — bahkan burung pun punya kelebihan dibanding manusia, bukan? —y ang makan cukup untuk hari itu, dan kembali bergerilya saban pagi untuk kembali mengisi perutnya dan keluarganya yang-hanya-cukup untuk hari itu saja. Ah, terlalu berisiko untuk orang semacam saya yang selalu khawatir dengan ketidak-kepastian, sesederhana menghadapi kalimat " ntar kita liat dulu, gampang~ " aja saya kelabakan. Hidup saya selalu diisi oleh ocehan-ocehan kecil dalam kepala: " Eh, gausa ah, ntar... " " Emang lo yakin nanti bakalan... " " Jangan ah, belum tentu... " Kadang saya penasaran. Apakah semua otak manusia seberisik ini?

Aneh

Ada perasaan aneh yang muncul tiap kali aku mendengar percakapan orang lain, yang dengan ntah siapa pula ia melakukan komunikasi via telepon genggam. Lucu. Hanya dalam beberapa menit, mampu membuatku mereka-reka orang seperti apakah ia, bagaimana hidupnya, dan lain sebagainya. Hanya dalam beberapa menit aku sudah dapat membuat konklusi tentang hidupnya yang dalam dimensi waktu alamiah memakan waktu setengah abad lamanya. Dasar. Manusia. Memaksa jadi hakim bagi orang lain, namun tak mampu menghakimi diri sendiri.