Posts

Showing posts from February, 2019

Iman

Dalam sebuah riwayat, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu'anhu  pernah mencium hajarul aswad, kemudian berkata, "Demi Allah, aku tahu kamu hanyalah sebuah batu. Sekiranya aku tidak melihat sendiri Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam  menciummu, pasti aku tidak akan menciummu." Lihat, bagaimana perilaku orang beriman kepada Allah. Benar memang kalo kita diharuskan untuk berfikir. Dalam Alquran juga beberapa kali disebutkan " la'allakum tatafakkarun ", demikian kami sampaikan agar kamu berpikir . Namun ada beberapa hal yang memang sudah mutlak hukumnya. Tidak semua hal mampu diserap oleh otak kita yang apalah ini dibandingkan dengan segala sesuatu yang sudah diciptakan oleh Allah, termasuk hukum Allah yang termaktub dalam Alquran. Contohnya saja, kenapa perempuan yang tidak bisa berpuasa ramadhan karena haid harus mengganti puasanya di waktu yang lain. Lalu kenapa perihal solat tidak berlaku hal yang sama padahal keduanya sama wajib? Kenapa ...

Pilihan

Kebanyakan orang yang terlihat bahagia justru kenyataannya adalah orang yang paling merasa dirinya tidak bahagia sehingga merasa bahwa dia perlu memperlihatkan dirinya adalah seorang yang bahagia dengan kehidupannya. For the sake of "biar orang mikir, gue...". Kenapa kita harus hidup di dunia dengan aturan seperti ini? Atau kita balik pertanyaannya, kenapa kita harus melalukan hal tersebut demi terlihat sama seperti orang lain? Listen, tidak ada yang salah dengan terlalu sederhana. Ingat, sahabat-sahabat Nabi bahkan berlomba-lomba untuk menjadi paling sederhana, dan mereka justru bahagia dengan itu. Pun, tidak ada yang salah juga dengan terlalu berada. Ingat, ada sahabat-sahabat Nabi--yang bahkan sudah mendapat jaminan tiket di surga, kekayaannya masyaAllah , mungkin jika di compare dengan rata-rata kekayaan orang terkaya di Indonesia sekarang pun masih jauh sekali. Contohnya saja, Utsman bi 'Affan, Abdurrahman bin 'Auf, Mush'ab bin 'Umair dan y...

Mindfulness

Coba deh sesekali lo maknai dengan lebih detail apa yang sedang lo lakuin sekarang. Hal apapun itu. Misalkan, lo lagi makan, coba lo rasakan gimana sensasi ngunyah makanan, nikmatin aja prosesnya, setiap bulir nasi yang masuk ke dalam mulut, setiap tegukan air yang lo minum,  setiap lapar yang berganti kenyang tatkala semua produk konsumtif tersebut sudah mulai melewati kerongkongan, hati, lambung dan seterusnya sampai disimpan untuk beberapa jam kedepan sebelum nanti dikeluarkan kembali menjadi residu-hasil pencernaan dan penyerapan sari makanan yang kita makan. Atau, misalkan, pas lo lagi mandi, coba lo nikmati setiap proses pembersihan diri lo dalam lima sampai sepuluh menit itu. Setiap air yang lo alirin  dari kepala sampai ujung kaki, setiap gelembung-gelembung sabun yang terbentuk dari tegangan permukaan dimana gaya tarik tersebut akan menarik molekul-molekul air pembentuk sabun, setiap gesekan dari perpaduan pasta dan sikat gigi yang lazimnya memiliki sensasi yang me...

Memahami

Seiring menuanya usia, menurut gue kita harus lebih banyak bisa memaklumi jutaan kompilasi karakter manusia di bumi. Temen gue pernah cerita, dia baru sadar sekarang-sekarang ini bahwa standar bahagia seseorang itu beda-beda. Mungkin ada beberapa hal yang terlihat sangat membosankan bagi kita, tapi justru begitu menyenangkan untuk sebagian orang. Belajarkah itu, berdiam dirikah, atau apalah. Begitupun karakter orang-orang dalam menghadapi sesamanya. Misalkan, kita ngomongin tentang tingkat kepeduliaan orang lain deh . Menurut gue hal ini tidak bisa diukur tanpa observasi mendalam. Karena ada beberapa orang yang memang memiliki cara yang berbeda dalam memperlakukan orang lain. Contohnya saja, jika kita bandingkan perhatian yang diberikan oleh Ayah dan Ibu. Tidak akan apple to apple.  Mungkin rata-rata Ayah tidak bisa seluwes Ibu dalam membangun komunikasi dengan anak-anak. Bukan Ayah orang yang pertama kali kita tuju untuk meminta ijin main dengan teman-teman. Atau, bukan...

Hablumminallah

Sebelumnya, gue mau menceritakan dua cerita kecil tapi cukup bermakna -at least- bagi gue. Yang pertama, 2 bulan lalu, ketika gue sedang ingin giat-giatnya menambah catatan ibadah dalam beberapa waktu itu. Mengingat ketika itu gue masih belum bekerja dan masih memiliki banyak waktu untuk menganggur di rumah. Akhirnya gue memutuskan untuk memperbaiki hal-hal yang selama ini terlanjur gue rusak, yakni ibadah harian yang dulu sempat rutin gue lakukan duluuuuu banget, sebelum perilaku jahiliyah gue kembali menyambangi baru-baru ini. Nah, salah satunya buat merutinkan zikir. Lalu terbesitlah dalam pikiran gue, "Kayanya kalo punya gelang kaya tasbih gitu enak kali ya, gue bisa berzikir di mana aja. Beli kali yaa. Soalnya kalo zikir setiap waktu tanpa media itu agak susah. Sebentar-bentar ke distract pikirannya." Setelah itu gue memutuskan untuk menyimpan dulu niat gue membeli gelang bentuk tasbih itu. Keesokan harinya, pas lagi tidur-tiduran di kasur, Mama datang dan mem...