Posts

Showing posts from 2021

Memento Mori [2]

Image
Pagi ini saya kembali mendapatkan kabar duka.  Setelah tiga hari berturut-turut mendapatkan kabar duka dari segala penjuru. Mulai dari Wakil Walikota Bandung yang meninggal dalam masjid ketika ingin khotbah, senior saya yang meninggal karena kendaraan yang ditumpanginya masuk jurang sekembalinya ia dalam perjalanan setelah menempuh ujian profesi, kemudian Selebgram yang beberapa hari terakhir cukup menyita perhatian khalayak lantaran kasus kecelakaan yang dialaminya setahun yang lalu sehingga menyebabkan ia menderita Spinal Cord Injury dan banyak komplikasi lainnya hingga detik ketika dia diambil oleh Yang Maha Kuasa.  Dan kali ini, tepat subuh tadi, rekan sekantor saya dikabarkan meninggal. Belum tau apa penyebab pastinya. Kejadian beruntun ini semakin menyadarkan saya bahwa kematian itu sangat amat dekat. Dan salah satu hal yang menyedihkan adalah ternyata kehidupan kita di dunia tidak se-luar biasa itu bagi orang lain. Kemarin, ketika senior saya meninggal, teman-temannya m...

Memento Mori [1]

“Let us prepare our minds as if we’d come to the very end of life. Let us postpone nothing. Let us balance life’s books each day. … The one who puts the finishing touches on their life each day is never short of time.”   -Seneca Gue sering ngerepost postingan dari akun-akun yang mengangkat tema agama.  Walaupun sebenernya gue selalu merasa ngga pantes. Selain itu gue juga takut akan ekspektasi orang-orang ke gue. Kaya omongan orang-orang sekitar yang sering kita denger “ih, buat apa jilbab lebar, tapi kelakuan begitu” atau "jenggot aja yang panjang, tapi akhlaknya minus". Walaupun korbannya (semoga aja) bukan gue, tapi omongan kaya gitu seriiing banget terdengar di sekitar gue. Ekspektasi-ekspektasi kaya gitu yang bikin gue males, sehingga once in a while gue melakukan hal yang ngga sesuai sama ekspektasi mereka, semuanya jadi buyar. Padahal misal dalam perkara yang tadi, kan kewajiban menutup aurat dan anjuran bermuamalah dengan baik adalah kotak yang berbeda. Walau memang...

Hari Sial (?)

Kemarin entah kenapa saya merasa seolah-olah seluruh semesta sedang berkonsolidasi bersatu padu bahu membahu membuat mood saya jelek.  Dari pagi, yang awalnya ujan sih emang, tapi udah redaan, sehingga membuat saya memutuskan untuk memakai atasan  raincoat  doang, tidak dengan bawahannya. Alhasil di tengah jalan tiba-tiba ujannya jadi deres dan saya kuyup banget nyampe kantor. Di siang harinya, ternyata jadwal tidur yang sudah saya susun sedemikian rupa juga gagal karena sesuatu. Kemudian lagi rencana yang sudah saya agendakan sejak seminggu yang lalu pun terancam gagal. Dan banyak variabel-variabel lain yang bikin saya bahkan buat ngomong aja rasanya males.  Rasanya pengen bilang ke orang-orang, " ini ngomong sama tangan saya aja ", tapi makin ngga guna kayanya, yaudade. Puncaknya adalah ketika selokan tempat pembuangan limbah cuci piring di rumah saya mampet, dan limbahnya tu udah lebih dari sehari menggenang terus. Makin-makin dong saya keselnya. Saking keselnya m...

Worrying

Image
Ada sebuah kisah dari filsafat China kuno yang menceritakan tentang seorang petani tua yang mendapati kudanya kabur. Setelah mendengar berita itu, tetangganya datang berkunjung dan berkata: “Nasib yang buruk.” “ Mungkin ,” jawab petani. Namun keesokan paginya kuda itu kembali, ditemani oleh tiga ekor kuda liar. “Luar biasa,” seru para tetangga. “ Mungkin ,” jawab orang tua itu. Keesokan harinya, anak petani itu mencoba menunggangi salah satu kuda liar, tetapi dia terlempar dan kakinya patah. “Sungguh malang,” kata para tetangga penuh simpati. “ Mungkin ,” jawab petani itu. Keesokan harinya, pejabat militer datang ke desa untuk merekrut anak petani menjadi tentara. Tetapi ketika mereka melihat kaki yang patah, mereka melewatinya. Kemudian, para tetangga memberi selamat kepada petani tua itu, mengatakan kepadanya betapa beruntungnya dia bahwa putranya terhindar dari perang. Petani itu menjawab: “ Mungkin ”. Sumber: www. tao-in-you.com/alan-watts-on-tao-of-gain-and-loss This Taoist s...

Ketidakpastian

Barusan saya mendengar cerita dari seseorang. Beliau adalah ibu dari empat orang anak yang baru dua tahun ditinggal mati suaminya. Selagi bercerita tentang anak-anaknya, beliau tiba-tiba ngomong, memecah keheningan, "S emua kejadiannya kaya terjadi gitu aja, kakak ngga pernah kepikiran akan kaya gitu jalannya ".  Seketika saya menjadi emosional. Rasanya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh beliau. Hal yang paling saya takuti di dunia ini adalah kehilangan dan ketidakpastian. Saya juga pernah mikir kalo saya ngga mau punya keterikatan emosional yang teramat dalam sama manusia dunia. Karena saya takut emosi saya akan terlalu bergantung pada orang tersebut. Saya akan takut dia merasa sedih, saya akan takut dia merasa marah, saya akan takut dia merasa kecewa. Dan banyak ketakutan-ketakutan lain yang menyambangi tipikal orang kaya saya. Lebih hardcore nya lagi ketakutan saya mulai merambat ke masa depan, di mana saya menjadi takut kalo anak saya terlalu bergantung sama saya lebi...

Esensi

Image
Beberapa waktu yang lalu saya melakukan presentasi untuk tugas akhir pada suatu pelatihan yang-wajib-saya ikuti. Bentuknya lebih kurang mirip-mirip kaya sidang skripsi gitu deh, ada pembimbing dan ada penguji. Dan di akhir presentasi, ada beberapa hal yang saya highlight dari masukan yang diberikan oleh penguji. Neither tentang penggunaan redaksi kata, nor tentang teknis pekerjaan saya, namun tentang "esensi" dari materi yang saya presentasikan. Kemudian hal tersebut membawa saya berpikir jauh pada hal-hal yang sudah saya lakukan selama ini dan kejadian-kejadian yang pernah saya lihat sampai hari ini. Sampai pada sebuah pertanyaan: Sebenarnya, seberapa jauh kita mengedepankan esensi dalam pekerjaan yang kita lakukan?  Sumber foto: Cerita dari Digul by Pramoedya Ananta Toer Dalam beribadah misalnya, seberapa penting kita menjaga komunikasi dengan Allah ketika sholat yang diaplikasikan dengan bacaan-bacaan sholat, atau ' yang penting udah sholat ' aja? Atau seberapa pen...

The freaking 25

Image
Hi. Ini adalah testimoni setelah melewati hari-hari awal dari  the freaking 25. Tidak ada yang spesial.  Aku masih bernafas lewat hidung, bukan telinga. Pencernaanku juga masih tidak begitu lancar, sama seperti hari-hari yang lalu. Aku masih harus dealing with konstipasi saban waktu. Dan semua hal yang masih biasa-biasa saja. Tidak ada yang berbeda, usia hanya perkara kalkulasi kalender masehi yang sering diglorifikasi sebagai apresiasi atas beratnya hari-hari yang sudah dilewati. But its okay . Manusia memang terkadang butuh apresiasi, dan validasi sesekali.

Insight

Kemarin saya tiba-tiba craving for foddies banget. Namun sayang seribu sayang keuangan saya sedang menipis. Tapi saya pengen banget nih ceritanya- wkwk .   Jadi saya membatin dalam hati. ' Ya Allah pengen cemilan deh '.   Beberapa saat kemudian, cukucuk tiba-tiba ponakan saya dateng sambil bawa sereal, susu, sama sendok 2pcs. 'Bunda, yuk kita makan sereal'.  Wah, r asanya seperti sebuah oase di padang pasir~ Terus, ngga hanya itu, tiba-tiba-lagi-Ayah ngasih Jambu Jamaika  hasil panen dari kebun belakang rumah  yang m asyaAllah  merah dan gede banget bre.  Terus saya mikir. ' Wait a minute , pasti ada sesuatu nih yang gue lakuin beberapa waktu terakhir.' Dalam proses rewind saya itu, sampailah saya pada dua hipotesis yang akan kita jabarkan satu persatu. Yang pertama. Saya jadi keinget salah satu podcast seorang Youtuber yang saat itu guest nya Dewi Sandra. Mba Dewi (ciye, akrab ceritanya) bilang kalo kita benar-benar jujur sama apa yang kita...

Be present. Cherish the moments.

Image
Bener kata orang. Be present.  Cherish the moments.  Karena once momen itu lewat, kita ngga akan punya kesempatan untuk ada di situ lagi. Kaya perasaan yang sedang saya rasain sekarang pas lagi ngoprek file-file di laptop lama saya. Melihat momen bersama keluarga dan teman-teman satu persatu, rasanya kangeen banget. Pengen ngulangin hal itu lagi. Tapi ya ngga bisa. Kalo pun dicoba untuk ngulang juga ngga bakal sama, orang-orangnya juga. Bahkan mungkin ada orang-orang yang qadarullah udah dipanggil duluan (semoga Allah limpahkan rahmat dan ampunan atas mereka). Jangan sampai nyesel kemudian karena terlalu fokus sama diri sendiri sampe lupa sama orang-orang di sekitar yang kamu mungkin ngga bakal nyangka kalo beberapa tahun lagi mereka-mereka ini akan jadi orang-orang yang bakal kamu kangenin banget-banget.

Comparing

Image
Sekarang ini entah kenapa makin banyak akun online shop di instagram yang make polling tag kaya this or that gitu untuk segala macem hal. Hal itu akhirnya bikin saya mikir, kenapa ya orang-orang tuh seneng banget comparing segala sesuatu?  'Lebih sayang Ayah atau Ibu?' 'Lebih milih teh atau kopi?' 'Lebih cakep mana si fulan atau fulin?' Saya jadi inget kata Mba Najwa Shihab pas ditanya pilih jadi jurnalis atau ibu rumah tangga. Jawabannya sempat menjadi hot topic  di beberapa media selama beberapa pekan:  " Kenapa perempuan harus disuruh memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya? Pertanyaan itu sejak awal sudah menempatkan seolah-olah membuat perempuan tak berdaya" Perhatian saya mungkin agak lebih fokus ke bagian membanding-bandingkan nya sih. Cerita sedikit, jadi tadi pas lagi jalan-jalan pagi sama keponakan saya, seperti biasa dia ngoceh keseharian dia atau cerita-cerita lain yang seru banget buat didenger. Terus sampai lah dimana dia cerita ...

Hal yang biasa-biasa saja

Image
“Akhirnya, hujan turun, menghantam atap seng. Amiru memejamkan mata, lama, lambat laun dia mendengar sebuah irama, Dia tersenyum. Dia tersenyum karena ingin seperti ayahnya, yakni dapat menjadi senang karena hal-hal yang kecil. Seni menyenangi hal-hal yang biasa saja, begitu istilah ayahnya yang hanya tamat SD itu. Amiru ingin menguasai seni itu sampai tingkat ayahnya telah menguasainya sehingga menjadi orang yang dapat menertawakan kesusahan. Itulah ilmu tertinggi seni menyenangi hal-hal kecil. Itulah sabuk hitamnya.” Andrea Hirata - Ayah Awalnya saya sempat merasa keputusan untuk balik ke kampung halaman adalah hal yang teramat salah dan pasti akan saya sesali di kemudian hari. Namun ternyata, sebaliknya. Keputusan itu menjadi hal yang paling saya syukuri sekarang. Kota tempat tinggal saya memang bukan kota metropolitan, di mana orang-orang mencari kesenangan dengan cara-cara yang ' sophisticated '. Kota ini teramat sederhana. Tinggal di kota kecil seperti ini justru memaksa ...