Memento Mori [1]
Gue sering ngerepost postingan dari akun-akun yang mengangkat tema agama. Walaupun sebenernya gue selalu merasa ngga pantes. Selain itu gue juga takut akan ekspektasi orang-orang ke gue. Kaya omongan orang-orang sekitar yang sering kita denger “ih, buat apa jilbab lebar, tapi kelakuan begitu” atau "jenggot aja yang panjang, tapi akhlaknya minus". Walaupun korbannya (semoga aja) bukan gue, tapi omongan kaya gitu seriiing banget terdengar di sekitar gue.
Ekspektasi-ekspektasi kaya gitu yang bikin gue males, sehingga once in a while gue melakukan hal yang ngga sesuai sama ekspektasi mereka, semuanya jadi buyar. Padahal misal dalam perkara yang tadi, kan kewajiban menutup aurat dan anjuran bermuamalah dengan baik adalah kotak yang berbeda.
Walau memang idealnya sih harusnya linear. Ketika penampilan membaik, harusnya akhlak juga ikut baik. Tapi kita ngga bisa menuntut semua hal harus serba ideal di dunia yang fana ini, kan? Lebih tepatnya kita ngga bisa memaksakan imaji-imaji yang kita harapkan ada di orang lain, while kita juga belum tentu bisa menjadi seideal itu. Beda sama masukan. Ngingetin orang, apalagi orang terdekat ke kebaikan adalah hal yang baik. Tapi caranya harus diperhatikan juga.
Balik ke alasan kenapa gue mau mengorbankan overthinking gue terhadap omongan-omongan dan ekspektasi orang lain untuk sekadar ngerepost postingan tersebut. Alasannya sebenarnya sesimpel karena gue pengen ada kiranya satu hal yang bisa bikin timbangan amal gue naik walau sedikit. Dan the fact that waktu kita di dunia ini belum tentu selama itu, seeelama yang rata-rata orang pikirin, yaa minimal punya 3-4 cucu, kali? Kenyataannya kan ngga gitu, ya. Kita bisa mati kapan aja. Umur kita bisa jadi hanya 1/2nya, atau 1/4nya, bahkan mungkin beberapa detik lagi, who knows?
Comments
Post a Comment