Memento Mori [1]

“Let us prepare our minds as if we’d come to the very end of life. Let us postpone nothing. Let us balance life’s books each day. … The one who puts the finishing touches on their life each day is never short of time.” 
-Seneca

Gue sering ngerepost postingan dari akun-akun yang mengangkat tema agama. Walaupun sebenernya gue selalu merasa ngga pantes. Selain itu gue juga takut akan ekspektasi orang-orang ke gue. Kaya omongan orang-orang sekitar yang sering kita denger “ih, buat apa jilbab lebar, tapi kelakuan begitu” atau "jenggot aja yang panjang, tapi akhlaknya minus". Walaupun korbannya (semoga aja) bukan gue, tapi omongan kaya gitu seriiing banget terdengar di sekitar gue.

Ekspektasi-ekspektasi kaya gitu yang bikin gue males, sehingga once in a while gue melakukan hal yang ngga sesuai sama ekspektasi mereka, semuanya jadi buyar. Padahal misal dalam perkara yang tadi, kan kewajiban menutup aurat dan anjuran bermuamalah dengan baik adalah kotak yang berbeda.

Walau memang idealnya sih harusnya linear. Ketika penampilan membaik, harusnya akhlak juga ikut baik. Tapi kita ngga bisa menuntut semua hal harus serba ideal di dunia yang fana ini, kan? Lebih tepatnya kita ngga bisa memaksakan imaji-imaji yang kita harapkan ada di orang lain, while kita juga belum tentu bisa menjadi seideal itu. Beda sama masukan. Ngingetin orang, apalagi orang terdekat ke kebaikan adalah hal yang baik. Tapi caranya harus diperhatikan juga.

Balik ke alasan kenapa gue mau mengorbankan overthinking gue terhadap omongan-omongan dan ekspektasi orang lain untuk sekadar ngerepost postingan tersebut. Alasannya sebenarnya sesimpel karena gue pengen ada kiranya satu hal yang bisa bikin timbangan amal gue naik walau sedikit. Dan the fact that waktu kita di dunia ini belum tentu selama itu, seeelama yang rata-rata orang pikirin, yaa minimal punya 3-4 cucu, kali? Kenyataannya kan ngga gitu, ya. Kita bisa mati kapan aja. Umur kita bisa jadi hanya 1/2nya, atau 1/4nya, bahkan mungkin beberapa detik lagi, who knows?

Nah, kesadaran tentang hal itu lately kian mengerubungi otak gue, sehingga gue jadi mikir. Kayanya kalo let say gue mati di rata-rata umur manusia, 60th. Sedangkan umur gue sekarang 26th. Berarti sisanya 34th. Berapa persen gue gunain buat bekerja, berapa persen gue gunain buat makan, berapa persen gue gunain buat ekskresi, berapa persen gue gunain buat tidur, sampe yang tersisa hanya sedikit saja. Belum yang gue habisin buat nyecroll timeline. Mau mengais pahala amal dari mana lagi gue dengan waktu seminim itu?
Itu masih ngomongin rata-rata ya. Gimana kalo ternyata umur gue ngga kaya rata-rata orang?
Tadi pagi gue baru denger kabar duka dari anak seorang Ustadz kondang, yang baru berumur 20th, tapi udah dipanggil Allah. Itu artinya dalam hal ini gue udah dapet 6th bonus dari umurnya dia. Bener-bener ngga ada jaminan kan gue bakal hidup lama ke depannya?
Makanya, beberapa tahun terakhir gue mikir, apa ya kira-kira amal yang bisa gue lakuin yang walau mungkin ngga begitu besar, tapi mungkin bisa buat nambah-nambah. Karena dengan waktu yang minim kita mesti bisa memanfaatkannya seefektif  mungkin. Nah, salah satu 'nambah-nambah' yang gue coba lakuin adalah itu, berusaha spreading hal-hal yang positif terutama ilmu agama yang gue sendiri pas baca itu jadi tersadarkan gitu lho, walaupun sesaat. Sehingga gue berharap orang-orang juga dapetin sense itu ketika baca postingan yang gue repost, dan moga-moga aja, gue juga bisa dapet pahala dari situ. 

Semoga.

Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor