Posts

Showing posts from October, 2019

Secukupnya, Seperlunya

Dulu, saya selalu mikir, apakah kalau saya mati, orang-orang akan merasa kehilangan saya? Sama halnya kaya ketika anak kehilangan ibunya? Atau jangan lah, analoginya ngga comparable. Ah tapi saya cape mikir, pokoknya gitu deh. Tapi sekarang saya punya pemahaman, kayanya akan lebih baik kalo ngga ada orang yang merasa kehilangan saya. Merasa kehilangan dalam artian, hal-hal yang mereka lakukan terhambat progressnya karena saya ngga ada. Mereka jadi diliputi perasaan sedih dan kehilangan terus-menerus. Kaya seorang Ibu yang meninggal dengan usia anaknya yang masih dalam masa kanak-kanak (yang tidak pernah terpikir harus mempersiapkan diri menghadapi perpisahan yang terlampau dini). Saya cuman pengen untuk tidak membebani orang lain. Baik waktu saya masih hidup maupun pas saya mati. Saya pengen ketika hidup, orang bisa berbahagia karna saya, namun ketika mati orang-orang tidak merana tanpa saya (di dunia). Dulu waktu kuliah, sama temen-temen yang lain, saya sering maen jawab-jawa...

Pertengahan

خير الأمور أوسطها "Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahannya" Hari ini, publik kembali dikejutkan dengan kabar menggemparkan terkait video rekaman cctv penghilangan bukti "buku merah" oleh oknum KPK dari kepolisian. Dan setelah mencoba mendengar dan melihat masalah ini dari dua sisi, yang akhirnya aku temukan adalah, dunia akan terus saja begini, siapapun yang berganti. Apa coba yang bisa kita harapkan dari dunia? Berharap semua iblis berubah jadi malaikat? Berharap semua hitam menjadi putih? Berharap semua orang jahat menjadi baik? Mungkin terdengar seperti argumen yang sangat pesimistis. Tapi, kalau mau bicara rasional, memang begitu adanya. Bukankah semua hal diciptakan di dunia ini dengan berpasang-pasangan? Sehingga jika ada baik pasti ada buruk, ada hitam pasti ada putih, ada yin pasti ada yang? Lalu, lagi, apa yang kita harapkan dari dunia? Tapi, walaupun begitu, kita tetap punya hak untuk melakukan sesuatu sih . Sesederhana un...

Listen

Baru-baru ini publik dikejutkan dengan kabar meninggalnya salah satu mantan personel girlband Korea, Sulli f(x). Setelah kabar kematiannya beredar, media-media pun berlomba untuk membuat segala macam berita yang berkaitan dengan Sulli, dari anjuran untuk lebih  aware terkait kesehatan mental hingga yang amoral. Dan tidak sedikit yang akhirnya memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan kekesalannya terhadap masyarakat Indonesia yang sering kali mengaitkan permasalahan gangguan psikiatri yang dialami seseorang dengan rendahnya tingkat keimanan atau kepercayaan orang tersebut terhadap hal-hal yang berbau spiritual-agamis. Sebenarnya hal ini tidak 100% salah. Karena jika kita boleh mengambil contoh, tanpa niat membanding-bandingkan tentunya, logikanya, akan lebih kecil kemungkinan orang yang beragama " dengan benar " untuk melakukan tindakan-tindakan yang memiliki tendensi suicidal. Walaupun memang terdapat satu dua variansi kasus yang terjadi. Salah satunya, kasus bom bunuh ...

Impact

Hai. Ini aku lagi. Setelah beberapa hari menghilang karena aktivitas duniawi. Aku kembali. Tidak, tidak. Aku bukan kembali karena aktivitas yang mulai lengang. Tapi karena sesuatu. Karena kurasa alasan "aku sedang sibuk", atau "aku sedang terlalu banyak kerjaan", dan lain-lain itu terkadang hanyalah  eufimisme dari "aku belum memprioritaskan itu sampai detik ini, maaf ya", sama seperti alasan "aku baru baca pesan kamu, seharian aku sibuk", atau " chat nya tenggelam, maaf ya", atau yang lain-lain. Jadi, balik lagi ke alasan, mengapa aku kembali. Tadi pagi aku menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia bercerita bahwa ia bertemu dengan seseorang yang sangat ia kagumi, sejak beberapa tahun terakhir. Orang ini adalah seorang dosen yang sesekali mengisi blognya dengan tulisan-tulisan yang mungkin dia pikir sederhana. Namun ternyata mempunyai efek yang sebegitu besarnya bagi si teman ini. Mungkin hal ini juga yang awalnya d...