Posts

Showing posts from August, 2017

Ditelfon Temen

Image
“Teman yang baik bukan teman yang sekedar membenarkan, tapi yang berani mengingatkan kita akan kebenaran.” Kemarin saya dikejutkan oleh panggilan seorang teman lama (semoga ia diberkahi Allah). Yang lebih mengejutkan adalah ketika dalam sambungan telfon berdurasi 50 menit 50 detik itu ia memilih menghabiskannya dengan membahas kematian. “Kamu pernah dengar? Salman Alfarisi pernah berkata seperti ini, ‘Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tidak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya.’” Subhanallah. Kamu tahu, entah kenapa sekarang saya jadi takut jika tiba-tiba mati, saya takut diambil dalam keadaan ketika saya tengah senang-senangnya dengan dunia. Melihat berita-berita seperti kemarin, yang orang sehabis dari musholla bisa na’as meninggal dibakar. Atau orang yang baru...

Merantau

Merantau itu, Bukan sekedar berpindah tempat Merantau itu, Konsensus damai mu atas keadaan Ketika kau tidak lagi bisa dengan mudahnya melihat senyum Ibu setiap hari Ketika makanan yang kau makan pertama kali setiap pagi adalah bukan lagi masakan wanita yang telah memasaki jutaan makanan mu sejak engkau lahir Ketika sendiri bukan lagi sebuah kata, tetapi teman Ketika kau mencoba mencari-cari hal yang bisa kau lakukan untuk membunuh waktu, membunuh rasa rindu Akan masakan Ibu setiap hari Akan berita di televisi yang kau tonton bersama Ayah setiap pagi Akan guyonan saudara-saudaramu yang walaupun receh tapi selalu bisa membuatmu tersenyum ketika sedih Akan kehangatan rumah yang selalu menjadi candu yang membuat mu ingin kembali Lagi Merantau, Lagi-lagi bukan sekedar kata berawalan m dan berakhiran u Namun sebuah kesepakatan antara ingin dan rindu mu

Keresahan

Beberapa minggu dirumah benar-benar membuat saya mempunyai waktu untuk diri saya sendiri. Berkontemplasi tentang eksistensi diri saya sebagai manusia, sebagai anak, sebagai peserta didik, maupun sebagai pendidik. Saya tidak tahu apakah ini hal yang biasa dialami oleh anak seumuran saya atau tidak. Yang pasti hal ini membuat saya sedikit tertekan. Saya merasa tidak ada yang harus saya lakukan lagi, asa itu telah mati, jiwa veteran saya terlalu cepat menyambangi. Saya telah lelah atas semua kepura-puraan ini. Atas semua kerja keras siang dan malam yang telah saya lalui hanya demi angka-angka berskala 4 yang muncul di portal mahasiswa. Atas semua stories dan feeds  yang saya unggah di instagram. Atas semua kegiatan yang saya ikuti untuk sebuah kertas linen atau concord bertuliskan nama dan pengaruh saya. Atas semua kerja keras yang saya lakukan untuk bisa makan enak di restoran multinasional atau memakai product dari brand ternama. Saya lelah. Kemudian saya memutu...

Siap?

Hari ini aku mendapatkan satu konklusi besar bin menohok dari sebuah diskusi kecil. Ketika aku dan seorang teman sedang mendiskusikan sesuatu terkait proses ber-Islam. Si Teman tadi berkata, “Mari kita melupakan tentang alasan kita untuk tidak boleh mengupload foto diri kita dikarenakan jika dilihat oleh lawan jenis-maka dosanya akan mengalir ke kita sendiri selama foto tersebut masih ada-karena barangkali orang-orang mampu menundukkan pandangannya, barangkali.  Tapi coba kita intropeksi diri sendiri, ketika kita memutuskan untuk mengupload foto diri, pasti didasari oleh rasa bangga, pasti ada benih-benih ujub ‘kan?” Aku pun merespon, “Iya, memang hakikatnya seperti itu. Terkadang kita memang sudah tau apa konsekuensi dari sesuatu, tapi terlepas dari itu semua aku hanya belum siap untuk melakukan itu-untuk tidak lagi mengupload foto diri-sama hal nya dengan aku yang belum siap untuk memakai rok atau kemana-kemana, untuk menghafal quran, untuk bercadar, atau even untuk berhenti ...