Keresahan

Beberapa minggu dirumah benar-benar membuat saya mempunyai waktu untuk diri saya sendiri. Berkontemplasi tentang eksistensi diri saya sebagai manusia, sebagai anak, sebagai peserta didik, maupun sebagai pendidik.

Saya tidak tahu apakah ini hal yang biasa dialami oleh anak seumuran saya atau tidak. Yang pasti hal ini membuat saya sedikit tertekan. Saya merasa tidak ada yang harus saya lakukan lagi, asa itu telah mati, jiwa veteran saya terlalu cepat menyambangi.
Saya telah lelah atas semua kepura-puraan ini.
Atas semua kerja keras siang dan malam yang telah saya lalui hanya demi angka-angka berskala 4 yang muncul di portal mahasiswa.
Atas semua stories dan feeds yang saya unggah di instagram.
Atas semua kegiatan yang saya ikuti untuk sebuah kertas linen atau concord bertuliskan nama dan pengaruh saya.
Atas semua kerja keras yang saya lakukan untuk bisa makan enak di restoran multinasional atau memakai product dari brand ternama.

Saya lelah.

Kemudian saya memutuskan untuk menceritakan keresahan saya kepada salah seorang Teman.
Katanya,
“Kita hanya terlalu khawatir, karena dulu kita merasa rajin. Rajin mengejar nilai, rajin mengejar penghargaan, dan kita dapatin itu loh. Thats why ketika kita seperti ini, tidak ingin apa-apa, hanya ingin belajar apa adanya tanpa ada apa-apanya, ada rasa khawatir, karena ini ngga lumrah buat orang-orang disekitar kita dan tentu buat diri kita sendiri yang udah terbiasa belajar karena punya target untuk diraih. Kita hanya tidak tahu ujungnya. Tapi saya merasa, kalau kita belajar karena Allah, tanpa mengejar apapun persepsi manusia, kemalasan kita dalam berorientasi kepada sesama manusia, semoga jalan ini bukan jalan yang buruk. Semoga Allah memberikan kita kecukupan hidup.”
Wallahu’alam bishshawaab

Allahumma shalli’ala Muhammad, shallahu 'alaihi wasallaam

Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor