Siap?
Hari ini aku mendapatkan satu konklusi besar bin menohok dari sebuah diskusi kecil. Ketika aku dan seorang teman sedang mendiskusikan sesuatu terkait proses ber-Islam.
Si Teman tadi berkata,
“Mari kita melupakan tentang alasan kita untuk tidak boleh mengupload foto diri kita dikarenakan jika dilihat oleh lawan jenis-maka dosanya akan mengalir ke kita sendiri selama foto tersebut masih ada-karena barangkali orang-orang mampu menundukkan pandangannya, barangkali. Tapi coba kita intropeksi diri sendiri, ketika kita memutuskan untuk mengupload foto diri, pasti didasari oleh rasa bangga, pasti ada benih-benih ujub ‘kan?”
Aku pun merespon,
“Iya, memang hakikatnya seperti itu. Terkadang kita memang sudah tau apa konsekuensi dari sesuatu, tapi terlepas dari itu semua aku hanya belum siap untuk melakukan itu-untuk tidak lagi mengupload foto diri-sama hal nya dengan aku yang belum siap untuk memakai rok atau kemana-kemana, untuk menghafal quran, untuk bercadar, atau even untuk berhenti mendengarkan musik.”
“Hahahahaha kok kita bisa seperti itu ya? Surga siap tidak ya menerima kita, orang-orang yang belum siap untuk surga itu sendiri?”
Ya.
Banyak orang yang menutupi keengganannya beribadah dengan alasan belum siap. Padahal, yang menciptakan parameter siap itu adalah kita sendiri. Belum siap itu hanya eufemisme dari rasa enggan. Sama halnya ketika kita berdalih sibuk, padahal kita saja yang tidak ingin meluangkan waktu. Sama saja ketika kita berdalih tidak mampu, padahal kita saja yang tidak ingin berjuang lebih keras untuk melakukan sesuatu.
Orang tidak akan merasa dirinya siap untuk sesuatu ketika ia sendiri belum mau untuk melakukan hal tersebut.
Jadi, sebenarnya kondisi sesiap apa lagi yang kita harapkan?
Karena kematian dan surga tidak akan menunggu hingga kita siap.
Comments
Post a Comment