Ditelfon Temen
“Teman yang baik bukan teman yang sekedar membenarkan, tapi yang berani mengingatkan kita akan kebenaran.”
Kemarin saya dikejutkan oleh panggilan seorang teman lama (semoga ia diberkahi Allah). Yang lebih mengejutkan adalah ketika dalam sambungan telfon berdurasi 50 menit 50 detik itu ia memilih menghabiskannya dengan membahas kematian.
“Kamu pernah dengar? Salman Alfarisi pernah berkata seperti ini, ‘Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tidak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya.’”
Subhanallah. Kamu tahu, entah kenapa sekarang saya jadi takut jika tiba-tiba mati, saya takut diambil dalam keadaan ketika saya tengah senang-senangnya dengan dunia. Melihat berita-berita seperti kemarin, yang orang sehabis dari musholla bisa na’as meninggal dibakar. Atau orang yang baru ditemui kemarin, tertawa bersama, esoknya tewas ditembaki orang yang bahkan tak dikenalnya. Mereka, mungkin tidak pernah sekalipun terbesit akan meninggal dengan cara seperti itu. Tidak ada yang pernah menyangka.
Hal itu membuat saya semakin takut. Tetapi kenyataannya sekarang, orang-orang sekarang sibuk menunggu jodohnya, menerka-nerka masa depannya, ia lupa akan satu kemungkinan, ajal menjemputnya lebih dulu daripada jodohnya, atau dari khayalan masa depannya.
“Iya, kita tidak pernah tahu, tapi kita bisa mempersiapkan. Karena apa yang kita lakukan sekarang, yang akan menentukan bagaimana kita akhirnya. Makanya, sekarang setiap habis solat saya selalu berdoa agar selalu dikuatkan dalam beriman, agar saya bisa meninggal dalam kematian yang baik (khusnul khotimah), agar saya bisa ditalqin ketika sakaratul maut, agar diberikan rahim yang sehat, agar bisa diberikan keturunan yang solih dan solihah, agar bisa membantu agama Islam semampu saya. Karena apalagi yang kita cari? Selagi Allah masih memberikan waktu untuk kita."
Ketika doa-doa saya hampir semuanya tentang dunia, di seberang sana, ada yang bahkan tidak tertarik untuk mendoakan hal-hal itu, dan justru memilih untuk berdoa untuk akhiratnya, untuk tujuan akhir hidupnya. Sebegitu remehnya dunia yang kita kejar-kejar ini, sebenarnya, bagi orang-orang yang sadar.

Comments
Post a Comment