Pertengahan

خير الأمور أوسطها

"Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahannya"

Hari ini, publik kembali dikejutkan dengan kabar menggemparkan terkait video rekaman cctv penghilangan bukti "buku merah" oleh oknum KPK dari kepolisian. Dan setelah mencoba mendengar dan melihat masalah ini dari dua sisi, yang akhirnya aku temukan adalah, dunia akan terus saja begini, siapapun yang berganti.

Apa coba yang bisa kita harapkan dari dunia?
Berharap semua iblis berubah jadi malaikat?
Berharap semua hitam menjadi putih?
Berharap semua orang jahat menjadi baik?

Mungkin terdengar seperti argumen yang sangat pesimistis. Tapi, kalau mau bicara rasional, memang begitu adanya. Bukankah semua hal diciptakan di dunia ini dengan berpasang-pasangan?
Sehingga jika ada baik pasti ada buruk, ada hitam pasti ada putih, ada yin pasti ada yang?
Lalu, lagi, apa yang kita harapkan dari dunia?

Tapi, walaupun begitu, kita tetap punya hak untuk melakukan sesuatu sih. Sesederhana untuk memberi makan ego kita. Agar tidak merasa menjadi orang yang buruk mungkin? Misalnya dengan memberikan sumbangan kepada orang yang membutuhkan, walaupun memberantas kemiskinan hingga ke akar adalah hal yang tidak akan mungkin terealisasi. Melakukan kegiatan sosial, walaupun mensejahterakan semua orang adalah hal yang mustahil adanya. Menggunakan sedotan stainless, tidak menggunakan kantong plastik ketika berbelanja, dan lain-lain, walaupun kita tau bahwa Indonesia ya tetap akan begini-begini saja. Dengan masalah pengelolaan sampah yang selalu ada, dan banjir yang menjadi rutinitas tahunan. Tidak banyak yang berbeda.

Namun, seperti kutipan-kutipan yang terkenal, harapan itu selalu ada. Seperti kata pepatah, there is a will, there is a way. Tidak ada yang salah dengan harapan. Walaupun tidak semua berakhir menjadi kenyataan. But at least we try. Tidak hanya duduk diam atau rebahan--kaya hobinya anak-anak Twitter sekarang. Hmm~

Yang perlu digarisbawahi adalah, tidak perlu terlalu berharap pada keadaan, manusia, dan lain-lain. Gantungkan saja pengharapan pada Sang Pencipta. Setidaknya jika harapanmu tidak menjadi nyata, kamu masih bisa percaya bahwa Allah akan selalu punya rencana yang baik untukmu. Lah manusia? Kalau mereka bikin kamu kecewa, kamu masih bisa percaya? Gua sih ngga yakin, namanya juga manusia.

Terakhir, yang mungkin bisa kita lakukan adalah menyaring semuanya dimulai dari diri kita sendiri. Dan menerima bahwa segala perbedaan itu mutlak, karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah menyentuh kata sama. Serta selalu berusaha mencari jalan tengah. Karena, lagi,

"Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahannya"


Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor