Impact
Hai.
Ini aku lagi.
Setelah beberapa hari menghilang karena aktivitas duniawi. Aku kembali.
Tidak, tidak. Aku bukan kembali karena aktivitas yang mulai lengang. Tapi karena sesuatu.
Karena kurasa alasan "aku sedang sibuk", atau "aku sedang terlalu banyak kerjaan", dan lain-lain itu terkadang hanyalah eufimisme dari "aku belum memprioritaskan itu sampai detik ini, maaf ya", sama seperti alasan "aku baru baca pesan kamu, seharian aku sibuk", atau "chatnya tenggelam, maaf ya", atau yang lain-lain.
Jadi, balik lagi ke alasan, mengapa aku kembali.
Tadi pagi aku menerima sebuah pesan dari seorang teman. Ia bercerita bahwa ia bertemu dengan seseorang yang sangat ia kagumi, sejak beberapa tahun terakhir. Orang ini adalah seorang dosen yang sesekali mengisi blognya dengan tulisan-tulisan yang mungkin dia pikir sederhana. Namun ternyata mempunyai efek yang sebegitu besarnya bagi si teman ini.
Mungkin hal ini juga yang awalnya dirasakan oleh mba Marchella FP ketika memutuskan untuk membuat buku. Dia pasti tidak akan menyangka bahwa tulisannya akan se-powerful itu. But it is.
Kita tidak pernah tau seberapa besar implikasi yang mungkin terjadi dari apa yang kita sampaikan, apa yang kita ucapkan.
Sama halnya, seperti suatu ketika aku pernah memposting satu tulisan ke WhatsApp status, lalu sore harinya aku dikejutkan oleh chat seorang teman yang bilang:
"Ratt,
Btw kan adek aku ad sdkt masalah sm skripsinya kan, trus dia nangis ga berenti2 krn sedih, abestu dia baca status ke, baru berenti nangis.
Disitu aku mikir, yaAllah kadang kt ngepost yaudah ngepost aja, tp manatau ada kebaikan buat org2 disana, ntah sengaja atau engga, yg pntg buat baik dan sesuai syariat aja
Ke pasti klo aku ga chat ni, gatau kan betapa berartinya sebuah postingan ke yg ke cuma ambil dr akun dakwah itu kan :')"
Itu dia.
Kita terkadang menyepelekan kesempatan yang bisa kita dapatkan dari menebar kebaikan. Sesederhana ketika kita memilih untuk memposting hal yang judgemental atau berisi ujaran kebencian dll, daripada sekadar membagikan hal-hal yang dapat memberi manfaat walau sedikit.
Kadang menurutku kita terlalu banyak membuang waktu dan selalu berpikir bahwa mereka punya masih banyak waktu. Di hari ini, mereka dengan bangganya berpikir untuk esok hari, "aku masih punya besok", atau "aku masih punya lusa", dan seterusnya, dan seterusnya. Bukan berarti menganjurkan untuk hidup tanpa perancangan dan bersiap untuk benar-benar mati hari ini ya.
Tapi, gini.
Ada satu hal yang tiba-tiba terpikirkan oleh ku pagi tadi, persis pagi tadi.
Sebenarnya, rumus simpel berjuang untuk hidup adalah, mengeset target, merancang perencanaan strategis, setelah itu, lupakan targetnya. Fokus pada perencanaan. Dan lakukan hal tersebut dengan sebaik-baiknya. Ingat, lupakan targetnya. Fokus pada perencanaan dan prosesnya. Jika targetnya esok hari. Lupakan bahwa ada yang namanya esok hari. Eksekusi perencanaan tadi dengan totalitas hari ini. Cukup ingat, hanya ada hari ini.
Ceritanya aku mengikuti salah satu akun yang membahas tentang Stoic di Instagram. Dan di salah satu video dia ngomong kalo Seneca pernah bilang gini:
"The person who goes to bed, having balanced the books of life, considering it over, they wake up in the morning and it's a bonus."
Everything it's extra. You will be playing living as if it's all upside and it is all upside. Today is over and the future is uncertain.
Ternyata memang ada pemikiran-pemikiran yang membahas tentang apa yang aku pikirin juga. Dan surprisingly sebenarnya hal tersebut juga relate dengan apa yang dianjurkan dalam islam.
Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).
Sumber https://rumaysho.com/7680-nikmat-rasa-aman.htmlYang perlu di-highlight adalah penggunaan kata “pada hari itu” yang seolah menekankan bahwa kita hanya perlu memikirkan tentang bagaimana cara bertahan hidup untuk hari itu saja, karena pada hakikatnya semua hal sudah dijamin Allah bahkan 50.000 tahun sebelum bumi diciptakan.
Terakhir, aku jadi ingat kata-kata Gading Marteen di video blog salah satu artis.
"If tomorrow never come, hari ini harus happy"
Jadi, apapun yang bisa kita lakukan hari ini, lakukanlah. Jangan tunggu hari esok.
Jika hari ini kita bisa membuat diri bahagia dengan katakanlah dengan makan mie bakso, makan! Jangan tunggu esok hari. Hehe
Begitupun dengan beribadah. Jika kita ingin melakukan suatu amalan atau kebaikan, lakukan hari ini. Jangan tunggu nanti.
Sehingga kita bisa meminimalisasi perasaan terbuai dengan kekecewaan yang hanya mendatangkan lebih banyak mudharat dalam hidup kita dibandingkan manfaat.
Anyway, balik lagi.
Alasanku untuk kembali mengisi blog ini adalah karena tersadarkan oleh yang namanya impact tadi.
Seberapapun sederhananya suatu hal bagiku, mungkin saja akan bernilai lebih bagi orang lain. Seperti tulisan-tulisan ini.
Akhirul kalam, wassalamu'alaikum warahmatullah.
See ya!
Kaya udah iya banget ya gue~
Comments
Post a Comment