Listen
Baru-baru ini publik dikejutkan dengan kabar meninggalnya salah satu mantan personel girlband Korea, Sulli f(x). Setelah kabar kematiannya beredar, media-media pun berlomba untuk membuat segala macam berita yang berkaitan dengan Sulli, dari anjuran untuk lebih aware terkait kesehatan mental hingga yang amoral.
Dan tidak sedikit yang akhirnya memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan kekesalannya terhadap masyarakat Indonesia yang sering kali mengaitkan permasalahan gangguan psikiatri yang dialami seseorang dengan rendahnya tingkat keimanan atau kepercayaan orang tersebut terhadap hal-hal yang berbau spiritual-agamis.
Sebenarnya hal ini tidak 100% salah. Karena jika kita boleh mengambil contoh, tanpa niat membanding-bandingkan tentunya, logikanya, akan lebih kecil kemungkinan orang yang beragama "dengan benar" untuk melakukan tindakan-tindakan yang memiliki tendensi suicidal. Walaupun memang terdapat satu dua variansi kasus yang terjadi. Salah satunya, kasus bom bunuh diri yang disinyalir dilakukan oleh orang-orang dengan kedok agama.
Kita memang tidak bisa memisahkan agama dengan kehidupan. Tetapi menurutku, untuk mengaitkan agama dan segala macam permasalahan dalam kehidupan, kita punya cara. Simpel nya gini deh.
Misalkan ada orang yang tiba-tiba stroke, ya secara logika saja tidak mungkin kita antarkan orang ini ke ustadz atau ke masjid kan? Ya kita bawa ke dokter. Tapi, tetap, ibadah jalan terus. Doa jalan terus. Amal jalan terus. Malah harusnya dilebihkan, diperbanyak, diperbagus kualitasnya. Itu namanya ikhtiyar.
Begitupun dalam masalah depresi ini.
Bukan berarti kita tidak percaya segala macam masalah ada campurtangan agama disitu, tapi, ada caranya. Nah, masalah gangguan psikiatri ini, ikhtiyarnya kita lakukan dengan konsultasi ke para ahli di bidang tersebut, contohnya psikolog, atau psikiater.
Ini yang jadi permasalahan perbedaan pendapat di masyarakat. Kubu satu tetap kekeuh dengan argumen kalau gangguan psikiatri bukan ranahnya agama dan mendiskreditkan pendapat yang berseberangan dengannya karena dianggap tidak edgy dan konservatif. Begitupun kubu satunya, juga sama, menganulir segala macam argumen kubu seberang karena menganggap mereka tidak beragama dengan benar. Jadi ngga akan nemu solusinya. Karena tidak ada yang ingin jalan beriringan. Padahal solusi itu selalu ada di tengah. Tidak terlalu kiri, tidak terlalu kanan.
Nah, dari masalah ini, menurutku hal yang bisa kita lakukan selaku manusia biasa yang punya salah dan dosa adalah tetap mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, memperbanyak ibadah, keep in touch dengan orang-orang terdekat, lebih aware lagi terhadap isu kesehatan mental, dan perbanyak mendengar--tanpa menghakimi :)
Aku jadi ingat salah satu postingan instagram story dari akun @nkcthi (Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini), dulu, ketika bukunya masih dalam masa research dan belum punya pengikut jutaan seperti sekarang.
"Kadang sisi rese saya (jadi admin) di tema berat semacam ini jadi mikir "Nih, buat yang patah semangat karena gebetan gak bales chat, gunjing temen karena pakai tas palsu, gak diajak nongkrong sama temen dan drama-drama sosial yang "dirasa". Ada loh masalah yang beneran masalah. Bukan masalah yang diada-adain."
Dengan memperbanyak mendengar, kita akan belajar untuk semakin memahami.
"Buka mata buka telinga. Banyak-banyak deh ngobrol sama orang lain. Ketika kita melakukan hal ini kita bakal melihat dan mendengar, dan semoga sadar, kalau ada banyak orang yang punya masalah jauhhhhh lebih besar dari kita. Bahwa ternyata, hidup kita baik-baik saja."
Aku membaca itu pada salah satu blog seseorang yang kuikuti cukup lama. Dan kalimat tersebut cukup menohok untuk kemudian melekat di otakku hingga detik ini.
Kekurangan dari sebagian besar kita adalah kemampuan dan kemauan untuk mendengar. Mendengar untuk mendengar. Bukan mendengar untuk membalas.
Terkadang orang dengan bangganya berlomba-berlomba untuk terlihat paling menderita dengan membanding-bandingkan masalahnya dengan orang lain yang sebenarnya hanya butuh untuk didengarkan. Buat apa?
Tujuan mendengar adalah untuk memahami.
Belajarlah untuk bisa mendengar orang-orang sekitarmu.
Semoga tidak ada penyesalan di kemudian hari atas apa yang kita lakukan atau tidak kita lakukan di hari ini.
Dan tidak sedikit yang akhirnya memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan kekesalannya terhadap masyarakat Indonesia yang sering kali mengaitkan permasalahan gangguan psikiatri yang dialami seseorang dengan rendahnya tingkat keimanan atau kepercayaan orang tersebut terhadap hal-hal yang berbau spiritual-agamis.
Sebenarnya hal ini tidak 100% salah. Karena jika kita boleh mengambil contoh, tanpa niat membanding-bandingkan tentunya, logikanya, akan lebih kecil kemungkinan orang yang beragama "dengan benar" untuk melakukan tindakan-tindakan yang memiliki tendensi suicidal. Walaupun memang terdapat satu dua variansi kasus yang terjadi. Salah satunya, kasus bom bunuh diri yang disinyalir dilakukan oleh orang-orang dengan kedok agama.
Kita memang tidak bisa memisahkan agama dengan kehidupan. Tetapi menurutku, untuk mengaitkan agama dan segala macam permasalahan dalam kehidupan, kita punya cara. Simpel nya gini deh.
Misalkan ada orang yang tiba-tiba stroke, ya secara logika saja tidak mungkin kita antarkan orang ini ke ustadz atau ke masjid kan? Ya kita bawa ke dokter. Tapi, tetap, ibadah jalan terus. Doa jalan terus. Amal jalan terus. Malah harusnya dilebihkan, diperbanyak, diperbagus kualitasnya. Itu namanya ikhtiyar.
Begitupun dalam masalah depresi ini.
Bukan berarti kita tidak percaya segala macam masalah ada campurtangan agama disitu, tapi, ada caranya. Nah, masalah gangguan psikiatri ini, ikhtiyarnya kita lakukan dengan konsultasi ke para ahli di bidang tersebut, contohnya psikolog, atau psikiater.
Ini yang jadi permasalahan perbedaan pendapat di masyarakat. Kubu satu tetap kekeuh dengan argumen kalau gangguan psikiatri bukan ranahnya agama dan mendiskreditkan pendapat yang berseberangan dengannya karena dianggap tidak edgy dan konservatif. Begitupun kubu satunya, juga sama, menganulir segala macam argumen kubu seberang karena menganggap mereka tidak beragama dengan benar. Jadi ngga akan nemu solusinya. Karena tidak ada yang ingin jalan beriringan. Padahal solusi itu selalu ada di tengah. Tidak terlalu kiri, tidak terlalu kanan.
Nah, dari masalah ini, menurutku hal yang bisa kita lakukan selaku manusia biasa yang punya salah dan dosa adalah tetap mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, memperbanyak ibadah, keep in touch dengan orang-orang terdekat, lebih aware lagi terhadap isu kesehatan mental, dan perbanyak mendengar--tanpa menghakimi :)
Aku jadi ingat salah satu postingan instagram story dari akun @nkcthi (Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini), dulu, ketika bukunya masih dalam masa research dan belum punya pengikut jutaan seperti sekarang.
"Kadang sisi rese saya (jadi admin) di tema berat semacam ini jadi mikir "Nih, buat yang patah semangat karena gebetan gak bales chat, gunjing temen karena pakai tas palsu, gak diajak nongkrong sama temen dan drama-drama sosial yang "dirasa". Ada loh masalah yang beneran masalah. Bukan masalah yang diada-adain."
Dengan memperbanyak mendengar, kita akan belajar untuk semakin memahami.
"Buka mata buka telinga. Banyak-banyak deh ngobrol sama orang lain. Ketika kita melakukan hal ini kita bakal melihat dan mendengar, dan semoga sadar, kalau ada banyak orang yang punya masalah jauhhhhh lebih besar dari kita. Bahwa ternyata, hidup kita baik-baik saja."
Aku membaca itu pada salah satu blog seseorang yang kuikuti cukup lama. Dan kalimat tersebut cukup menohok untuk kemudian melekat di otakku hingga detik ini.
Kekurangan dari sebagian besar kita adalah kemampuan dan kemauan untuk mendengar. Mendengar untuk mendengar. Bukan mendengar untuk membalas.
Terkadang orang dengan bangganya berlomba-berlomba untuk terlihat paling menderita dengan membanding-bandingkan masalahnya dengan orang lain yang sebenarnya hanya butuh untuk didengarkan. Buat apa?
Tujuan mendengar adalah untuk memahami.
Belajarlah untuk bisa mendengar orang-orang sekitarmu.
Semoga tidak ada penyesalan di kemudian hari atas apa yang kita lakukan atau tidak kita lakukan di hari ini.
Comments
Post a Comment