Ketidakpastian

Barusan saya mendengar cerita dari seseorang. Beliau adalah ibu dari empat orang anak yang baru dua tahun ditinggal mati suaminya. Selagi bercerita tentang anak-anaknya, beliau tiba-tiba ngomong, memecah keheningan,
"Semua kejadiannya kaya terjadi gitu aja, kakak ngga pernah kepikiran akan kaya gitu jalannya". 
Seketika saya menjadi emosional. Rasanya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh beliau.

Hal yang paling saya takuti di dunia ini adalah kehilangan dan ketidakpastian. Saya juga pernah mikir kalo saya ngga mau punya keterikatan emosional yang teramat dalam sama manusia dunia. Karena saya takut emosi saya akan terlalu bergantung pada orang tersebut. Saya akan takut dia merasa sedih, saya akan takut dia merasa marah, saya akan takut dia merasa kecewa. Dan banyak ketakutan-ketakutan lain yang menyambangi tipikal orang kaya saya. Lebih hardcorenya lagi ketakutan saya mulai merambat ke masa depan, di mana saya menjadi takut kalo anak saya terlalu bergantung sama saya lebih dari siapa pun. Saya ngga mau secara ngga langsung dia menjadikan saya tempat bergantung akan semua hal yang ada dalam hidupnya. Karena saya tau kalo saya ngga mungkin bisa selamanya sama dia terus. Saya bisa mati kapan aja.

Di dalam islam pun sebenarnya kita dituntut untuk menempatkan Allah dan Rasul-Nya pada peringkat paling wahid di atas yang lain.
"Tiga perkara yang seseorang akan merasakan manisnya iman: [1] ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya, [2] ia mencintai seseorang hanya karena Allah, [3] ia benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci bila dilemparkan dalam neraka." (HR. Bukhari No. 6941 dan Muslim No. 43)

Sumber:
https://rumaysho.com/2114-cenderung-cinta-padanya.html

Tidak ada yang pasti di dunia ini, melainkan ketidakpastian itu sendiri. Sehingga apa yang kita lakukan sekarang, proyeksi-proyeksi masa depan yang kita bangun, seakurat apapun namun masih punya celah untuk varians ketidakpastian. Saya jadi ingat penjelasan dosen saya pada saat mata kuliah statistik, intinya dalam penelitian ada yang namanya Confident of Interval yakni tingkat keyakinan dari hasil penelitian terkait di mana nilainya bervariasi namun lazimnya 90%, 95% bahkan 99%. Tidak ada angka 100%. Seakurat-akuratnya, pasti menyisakan 1% untuk ruang margin error dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. 

Hal ini menjadi salah satu refleksi bagaimana kehidupan di dunia ini bekerja. Bahwa tidak ada yang benar-benar mutlak. Kecuali apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. 

Sehingga kalau sekarang kamu merasa nyamaan banget sama apa yang kamu punya. Tidak akan menjadi jaminan ke depannya kamu bisa merasakan kenyamanan itu berkelanjutan. Makanya kita dituntut untuk hanya bergantung sama Allah, Penguasa sekalian alam, yang menentukan hidup dan mati kita serta apa yang ada sebelum dan sesudahnya. 

Karena kita ngga akan pernah tau apa yang akan terjadi di hidup kita even setelah detik ini.

Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor