Worrying

Ada sebuah kisah dari filsafat China kuno yang menceritakan tentang seorang petani tua yang mendapati kudanya kabur. Setelah mendengar berita itu, tetangganya datang berkunjung dan berkata:
“Nasib yang buruk.”
Mungkin,” jawab petani.
Namun keesokan paginya kuda itu kembali, ditemani oleh tiga ekor kuda liar.
“Luar biasa,” seru para tetangga.
Mungkin,” jawab orang tua itu.
Keesokan harinya, anak petani itu mencoba menunggangi salah satu kuda liar, tetapi dia terlempar dan kakinya patah.
“Sungguh malang,” kata para tetangga penuh simpati.
Mungkin,” jawab petani itu.
Keesokan harinya, pejabat militer datang ke desa untuk merekrut anak petani menjadi tentara. Tetapi ketika mereka melihat kaki yang patah, mereka melewatinya.
Kemudian, para tetangga memberi selamat kepada petani tua itu, mengatakan kepadanya betapa beruntungnya dia bahwa putranya terhindar dari perang.
Petani itu menjawab:
Mungkin”.
Sumber: www.tao-in-you.com/alan-watts-on-tao-of-gain-and-loss

This Taoist story shows that we can’t judge what’s desirable or undesirable when it comes to present events, because we don’t know how things will turn out.
Things that seem bad, may turn out to be blessings and vice versa.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [Al Baqarah: 216]



Cerita ini dikutip dari channel Youtube Einzelgänger dengan judul video Reasons to Stop Worrying.


Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor