Hal yang biasa-biasa saja
“Akhirnya, hujan turun, menghantam atap seng. Amiru memejamkan mata, lama, lambat laun dia mendengar sebuah irama, Dia tersenyum. Dia tersenyum karena ingin seperti ayahnya, yakni dapat menjadi senang karena hal-hal yang kecil. Seni menyenangi hal-hal yang biasa saja, begitu istilah ayahnya yang hanya tamat SD itu. Amiru ingin menguasai seni itu sampai tingkat ayahnya telah menguasainya sehingga menjadi orang yang dapat menertawakan kesusahan. Itulah ilmu tertinggi seni menyenangi hal-hal kecil. Itulah sabuk hitamnya.”
Andrea Hirata - Ayah
Awalnya saya sempat merasa keputusan untuk balik ke kampung halaman adalah hal yang teramat salah dan pasti akan saya sesali di kemudian hari.
Namun ternyata, sebaliknya. Keputusan itu menjadi hal yang paling saya syukuri sekarang.
Kota tempat tinggal saya memang bukan kota metropolitan, di mana orang-orang mencari kesenangan dengan cara-cara yang 'sophisticated'. Kota ini teramat sederhana. Tinggal di kota kecil seperti ini justru memaksa kita untuk bisa mencari kebahagiaan kita sendiri dari fasilitas dan sumber daya yang ada. Sehingga kita dilatih untuk bisa bahagia dengan hal yang biasa-biasa saja.
Dan saya bahagia.
Saya bersyukur bisa dibesarkan di sini dan akhirnya tinggal di sini. Melihat hal yang sama setiap paginya. Orang-orang bertegur sapa karena saling mengenal satu sama lain sejak tahun kedua atau ketiga menginjakkan kaki di bumi. Bahkan, pernah ketika saya jalan-jalan pagi bersama Ayah dan Mama, kayanya ya seingat saya, semua laki-laki yang kami temui sepanjang perjalanan mengenal dan saling sapa dengan Ayah.
Waah, saya ketinggalan banyak hal rupanya.
Tapi itulah Meulaboh, kota kami.
Saya berharap, Meulaboh tetap menjadi Meulaboh. Dengan pagi dan dini harinya yang sepi. Pantainya yang masih sunyi. Gedung-gedungnya yang tidak tinggi. Dan orang-orang yang sama yang kau temui tiap hari.
Biarlah ia tetap seperti ini.
Tapi itulah Meulaboh, kota kami.
Saya berharap, Meulaboh tetap menjadi Meulaboh. Dengan pagi dan dini harinya yang sepi. Pantainya yang masih sunyi. Gedung-gedungnya yang tidak tinggi. Dan orang-orang yang sama yang kau temui tiap hari.
Biarlah ia tetap seperti ini.
Tapi dengan ngomong begini bukan berarti saya tidak menyukai kemajuan. Saya hanya ingin menghargai dan menyukai Meulaboh just the way it is. Seperti halnya kita menerima keluarga, teman, atau pasangan kita.
Seberapa pun banyaknya hal yang berseberangan as long as kita bisa deal dengan itu, ya gapapa. Kita bisa menjadi partner yang baik then. Misal, saya suka teh bunga telang, tapi kamu sukanya kopi. Atau saya yang membosankan seperti layaknya ibu2 45 tahun, tapi kamu tidak. Selama kamu tidak menjudge saya dengan hal itu walaupun kamu memiliki preferensi yang berbeda, ya gapapa. Kita hidup berdampingan bukan untuk menjadi sama tanpa beda. Tapi membaurkan perbedaan.
Seberapa pun banyaknya hal yang berseberangan as long as kita bisa deal dengan itu, ya gapapa. Kita bisa menjadi partner yang baik then. Misal, saya suka teh bunga telang, tapi kamu sukanya kopi. Atau saya yang membosankan seperti layaknya ibu2 45 tahun, tapi kamu tidak. Selama kamu tidak menjudge saya dengan hal itu walaupun kamu memiliki preferensi yang berbeda, ya gapapa. Kita hidup berdampingan bukan untuk menjadi sama tanpa beda. Tapi membaurkan perbedaan.

Comments
Post a Comment