Memento Mori [2]
Pagi ini saya kembali mendapatkan kabar duka.
Setelah tiga hari berturut-turut mendapatkan kabar duka dari segala penjuru. Mulai dari Wakil Walikota Bandung yang meninggal dalam masjid ketika ingin khotbah, senior saya yang meninggal karena kendaraan yang ditumpanginya masuk jurang sekembalinya ia dalam perjalanan setelah menempuh ujian profesi, kemudian Selebgram yang beberapa hari terakhir cukup menyita perhatian khalayak lantaran kasus kecelakaan yang dialaminya setahun yang lalu sehingga menyebabkan ia menderita Spinal Cord Injury dan banyak komplikasi lainnya hingga detik ketika dia diambil oleh Yang Maha Kuasa.
Dan kali ini, tepat subuh tadi, rekan sekantor saya dikabarkan meninggal. Belum tau apa penyebab pastinya. Kejadian beruntun ini semakin menyadarkan saya bahwa kematian itu sangat amat dekat. Dan salah satu hal yang menyedihkan adalah ternyata kehidupan kita di dunia tidak se-luar biasa itu bagi orang lain. Kemarin, ketika senior saya meninggal, teman-temannya mempublish instastory tentang kematiannya. Kemudian selang beberapa jam, mereka kembali melanjutkan hidup dengan postingan makan-makan, berkumpul bersama teman lainnya, dan sebagainya. Saya pun demikian. Setiap mendengar kabar kematian, saya ikut berduka. Namun beberapa saat kemudian otak saya langsung banting setir memikirkan hal lain, "kira-kira hari ini makan apa ya?", "orderan saya sudah nyampe belum ya", "pagi ini nyuci ngga ya?" dan lain-lain lagi.
Bagi yang telah berpulang, mungkin satu dua hari kemudian pekerjaannya akan tergantikan oleh orang lain. Jabatannya akan diambil alih orang lain. Sampai hari demi hari, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun berganti, akhirnya ia kembali terlupa. Sama seperti jasad-jasad di bawah tanah yang pernah hidup berdampingan dengan kita, dulu.
Sehingga kalau dipikir-pikir ketika melakukan perintah Allah atau menjauhi larangannya tapi masih mikirin orang lain, takut dicap ini, takut dikucilkan dll, seyogyanya adalah alasan yang tidak worth. Karena at the end of the day mereka juga akan melupakan kita. Jangan ngomong setahun dua tahun. Sejam aja udah lupa. Baru denger kabar duka pagi ini bisa jadi siangnya mereka ketawa-ketawa dengan teman lain. So what's the point gitu, kalo ternyata ujung-ujungnya yang ditanyain, yang diminta pertanggungjawaban atas perbuatan kita adalah kita sendiri, bukan orang-orang yang kontra atau orang-orang yang nyinyir atas keputusan yang kita ambil.
Comments
Post a Comment