Iman
Dalam sebuah riwayat, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu'anhu pernah mencium hajarul aswad, kemudian berkata, "Demi Allah, aku tahu kamu hanyalah sebuah batu. Sekiranya aku tidak melihat sendiri Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam menciummu, pasti aku tidak akan menciummu."
Lihat, bagaimana perilaku orang beriman kepada Allah.
Benar memang kalo kita diharuskan untuk berfikir. Dalam Alquran juga beberapa kali disebutkan "la'allakum tatafakkarun", demikian kami sampaikan agar kamu berpikir. Namun ada beberapa hal yang memang sudah mutlak hukumnya. Tidak semua hal mampu diserap oleh otak kita yang apalah ini dibandingkan dengan segala sesuatu yang sudah diciptakan oleh Allah, termasuk hukum Allah yang termaktub dalam Alquran.
Contohnya saja, kenapa perempuan yang tidak bisa berpuasa ramadhan karena haid harus mengganti puasanya di waktu yang lain. Lalu kenapa perihal solat tidak berlaku hal yang sama padahal keduanya sama wajib?
Kenapa wudhu yang batal karena kentut, diperintahkan kembali berwudhu. Namun anggota badan yang dibersihkan bukan tempat keluarnya kentut?
Kenapa isbal tetap tidak dibolehkan? Walaupun kita tidak bermaksud untuk sombong?
Begitupun kenapa alat musik haram, sekalipun alat musik dalam lagu-lagu yang memang tujuan diciptakannya untuk menyampaikan kebaikan.
Dan kenapa yang lain-lain..
Karena beragama itu kuncinya iman.
"Betapa lemahnya akal dan logika kita jika digunakan sebagai alat untuk beragama"
Kita sering kali merasa bahwa akal kita lebih hebat dari hukum yang Allah ciptakan. Sehingga menafikan hukum-hukum tersebut karena kita rasa tidak rasional dan terlalu kaku, sedangkan menurut kita islam harusnya meringankan, tidak berat. Dan mengecap 'orang-orang' yang tidak sependapat dengan kita adalah golongan orang-orang yang menyimpang.
Gue pribadi merasa belum benar-benar beriman secara kaffah. Malah masih jaauuuuuuh sekali. Tapi gue berusaha tidak mencari pembenaran akan sesuatu yang memang belum siap gue lakukan.
Misalkan, katakanlah dalam hukum musik. Gue hidup di keluarga yang bermain dan mencintai musik. Dari bayi, balita, hingga sekarang, mungkin sebagian besar memori di otak gue disisipi dengan musik. Sehingga untuk meninggalkannya pun bukan menjadi hal yang mudah. Namun demikian, gue tidak mau menafikan hukum yang mengatakan bahwa alat musik haram. Atau mencoba menafsirkan dalil dengan mengklasifikasikan jenis musik mana yang halal, jenis musik mana yang haram. Sehingga walaupun berat, gue tetap coba untuk tinggalkan pelan-pelan.
Begitupun dalam hal menutup aurat. Gue pernah denger bahwa ada yang bilang kalo kaki bukanlah termasuk anggota tubuh yang menjadi aurat wanita. Walaupun sampai sekarang masih agak berat bagi gue untuk menutup aurat dengan sempurna, tapi gue tidak mau mencari-cari pembenaran--melegalisasi agar apa yang gue lakukan bisa dianggap atau gue anggap benar. Misalkan dengan mengatakan bahwa tidak masalah kita tidak memakai pakaian yang 'katanya' ke-arabarab-an itu, yang penting tertutup, atau tidak perlulah sampai memakai kaos kaki atau pakaian yang longgar dan panjang. Atau dengan membenarkan segala sesuatu hanya karena hal tersebut telah lama dilakukan oleh orang-orang sebelum kita. Atau dengan beranggapan bahwa tidak perlu terlalu memberatkan diri, karena setiap orang punya cara masing-masing dalam beragama, dan islam itu mudah serta tidak memberatkan pemeluknya.
Gak gitu cara kerjanya kak :(
Islam itu mudah bagi orang-orang yang benar-benar beriman.
Apa bagi kita akan mudah menahan batu besar yang diletakkan di atas tubuh kita lalu disiksa seperti cobaan yang diberikan ke Bilal bin Rabbah?
Apa bagi kita akan mudah dibakar dalam api yang besar seperti yang dilakukan Raja Namrud ke Nabi Ibrahim 'alaihissalam?
Apa bagi kita akan mudah ditarik semuaaaa nikmat yang diberikan Allah 'azza wa jalla sampai hampir tidak tersisa sesuatupun seperti yang ditimpakan ke Nabi 'Ayub 'alaihissalam?
Apa bagi kita akan mudah meninggalkan semua kemegahan dunia yang kita miliki serta meninggalkan keluarga yang telah hidup bersama kita bertahun lamanya seperti yang dilakukan Mush'ab bin 'Umair?
...dan masih banyak lagi
Bagi mereka mungkin iya, bukan mudah secara harfiah, namun karena mereka ridha dengan segala ketentuan Allah 'azza wa jalla, karena mereka beriman kepada Allah, maka Allah berikan ketentraman dan kemudahan bagi mereka. Sehingga mereka tidak merasa bahwa itu sesuatu yang berat, karena mereka percaya bahwa Allah 'azza wa jalla tidak akan memberikan cobaan kepada hambaNya melebihi berat cobaan yang sanggup diterima.
Jadi, kita gak bisa seenak-enaknya mengcompare diri kita dengan nabi ataupun sahabat-sahabat yang iman nya jelas masya Allah.
Islam itu mudah bagi orang-orang yang benar-benar beriman.
Apa bagi kita akan mudah menahan batu besar yang diletakkan di atas tubuh kita lalu disiksa seperti cobaan yang diberikan ke Bilal bin Rabbah?
Apa bagi kita akan mudah dibakar dalam api yang besar seperti yang dilakukan Raja Namrud ke Nabi Ibrahim 'alaihissalam?
Apa bagi kita akan mudah ditarik semuaaaa nikmat yang diberikan Allah 'azza wa jalla sampai hampir tidak tersisa sesuatupun seperti yang ditimpakan ke Nabi 'Ayub 'alaihissalam?
Apa bagi kita akan mudah meninggalkan semua kemegahan dunia yang kita miliki serta meninggalkan keluarga yang telah hidup bersama kita bertahun lamanya seperti yang dilakukan Mush'ab bin 'Umair?
...dan masih banyak lagi
Bagi mereka mungkin iya, bukan mudah secara harfiah, namun karena mereka ridha dengan segala ketentuan Allah 'azza wa jalla, karena mereka beriman kepada Allah, maka Allah berikan ketentraman dan kemudahan bagi mereka. Sehingga mereka tidak merasa bahwa itu sesuatu yang berat, karena mereka percaya bahwa Allah 'azza wa jalla tidak akan memberikan cobaan kepada hambaNya melebihi berat cobaan yang sanggup diterima.
Jadi, kita gak bisa seenak-enaknya mengcompare diri kita dengan nabi ataupun sahabat-sahabat yang iman nya jelas masya Allah.
Gue jadi ingat kisah ketika Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam baru di-isra'mi'raj-kan oleh Allah. Para pemuka kafir sengaja menjadikan momentum isra'mi'raj ini untuk menggoyahkan iman umat muslim pada waktu itu. Dan kuncinya adalah Abu Bakar radhiyallahu'anhu. Namun apa yang terjadi? Abu Bakar RA. bahkan langsung mempercayai segala sesuatu yang disampaikan oleh Rasulullah. Beberapa orang bahkan mulai protes. “Ya Abu Bakr, bagaimana mungkin kau langsung percaya padahal kau baru mendengar cerita Muhammad?”
Dengan tenang Abu Bakar menjawab, “Andai Muhammad hanya di bumi lalu wahyu sampai padanya tanpa naik ke langit, niscaya aku tetap percaya.” Lebih dari itu, Abu Bakar menegaskan, “Andai di hadapanku ada dinding warna putih, tapi Muhammad mengatakan itu bukan putih, melainkan hitam, niscaya aku akan mengatakannya hitam. Aku akan katakan dinding itu hitam dan aku bohongkan mataku.”
Kalo kita ada di masa itu, mendengar bahwa ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai utusan Allah, lalu mengatakan bahwa dalam semalam ia melakukan perjalanan hingga ke langit paling tinggi lalu sampai lagi ke bumi dan menyampaikan perintah untuk melakukan solat, apakah kita akan semudah itu percaya? :(
Bener kata Raihan, iman adalah mutiara..
Wallahu'alam
Wallahu'alam
Comments
Post a Comment