Hablumminallah
Sebelumnya, gue mau menceritakan dua cerita kecil tapi cukup bermakna -at least- bagi gue.
Yang pertama, 2 bulan lalu, ketika gue sedang ingin giat-giatnya menambah catatan ibadah dalam beberapa waktu itu. Mengingat ketika itu gue masih belum bekerja dan masih memiliki banyak waktu untuk menganggur di rumah. Akhirnya gue memutuskan untuk memperbaiki hal-hal yang selama ini terlanjur gue rusak, yakni ibadah harian yang dulu sempat rutin gue lakukan duluuuuu banget, sebelum perilaku jahiliyah gue kembali menyambangi baru-baru ini.
Nah, salah satunya buat merutinkan zikir.
Lalu terbesitlah dalam pikiran gue, "Kayanya kalo punya gelang kaya tasbih gitu enak kali ya, gue bisa berzikir di mana aja. Beli kali yaa. Soalnya kalo zikir setiap waktu tanpa media itu agak susah. Sebentar-bentar ke distract pikirannya."
Setelah itu gue memutuskan untuk menyimpan dulu niat gue membeli gelang bentuk tasbih itu.
Keesokan harinya, pas lagi tidur-tiduran di kasur, Mama datang dan membawa sesuatu.
"Dek, ini yang Mama beli pas di Mekkah, kemaren sempat ilang."
Gelang tasbih gaes..
Persis kaya yang ada di pikiran gue sehari yang lalu. Ga perlu gue beli, dan dianter sendiri while gue lagi santuy-santuy selimutan sambil nyecroll timeline.
Gue tersentak.
Yang kedua adalah, masih dalam rangka memperbaiki diri dan lingkungan sekitar. Gue berniat ingin membuat notes di beberapa spot di dalam rumah yang berisi doa-doa yang relevan, contohnya doa makan, buat ditaro di dapur, etc. Lagi-lagi terbesitlah dalam hati, "Hm, ntar beli post it lah, buat nempel-nempelin itu". Dan gue menyimpan kembali rencana gue itu.
Keesokan harinya, gue ke Indomaret, pengen beli post it nih ceritanya. Tapi gue inget ada satu barang lagi yang mesti gue beli. Tapi dua-duanya penting nih. Lebih penting post it sih hehe, tapi gue udah lama banget pengen beli barang ini. Akhirnya gue memutuskan untuk menangguhkan pembelian post it dan beli barang komparatifnya tadi. Sesampainya di rumah, gue sedang mencari-cari sesuatu di kolong meja lantai atas yang jarang bet disentuh orang. And guess what I found...
Post it yang masih utuh dan tebal, saudara-saudaraku seiman sebangsa dan setanah air..
Di luar dari cerita itu sebenernya masih banyak hal-hal menyentil lainnya yang terjadi di kehidupan gue akhir-akhir ini. Dari situ gue bisa menyimpulkan bahwa, sebenarnya kita bisa membangun komunikasi sedekat itu dengan Tuhan. Seeeedekat itu. Bahkan sampai keinginan apapun yang cuman baru terbesit di dalam hati pun bisa langsung dimakbulkan, jika memang Allah mengganggap bahwa kita membutuhkan itu.
Jadi sebenernya jika ada kejadian atau sesuatu yang tidak bisa kita terima itu adalah hal-hal yang direkayasa oleh pikiran kita sendiri yang terkadang amat sangat terbatas kapasitasnya untuk dapat menyingkap hikmah besar yang ada pada suatu kejadian atau peristiwa.
Simpulan lain adalah, ketika kita sudah berniat untuk mendekatkan diri, yakinlah wahai akhi dan ukhti sekalian, jalan kita pasti akan dimudahkan. Hal ini mengingatkan gue sama salah satu hadits Qudsi,
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).
Terkadang manusia memang perlu disentil dulu baru sadar, perlu dibecandain dulu baru serius, perlu diambil dulu nikmatnya baru kembali.
Wallahu'alam.
Semoga apa yang gue ketik selama beberapa menit terakhir dapat diambil manfaatnya bukan cuman talking crap yang ngga bisa diambil apa-apa sebagai pelajaran. Amen
Comments
Post a Comment