Memahami

Seiring menuanya usia, menurut gue kita harus lebih banyak bisa memaklumi jutaan kompilasi karakter manusia di bumi. Temen gue pernah cerita, dia baru sadar sekarang-sekarang ini bahwa standar bahagia seseorang itu beda-beda. Mungkin ada beberapa hal yang terlihat sangat membosankan bagi kita, tapi justru begitu menyenangkan untuk sebagian orang. Belajarkah itu, berdiam dirikah, atau apalah.

Begitupun karakter orang-orang dalam menghadapi sesamanya. Misalkan, kita ngomongin tentang tingkat kepeduliaan orang lain deh. Menurut gue hal ini tidak bisa diukur tanpa observasi mendalam. Karena ada beberapa orang yang memang memiliki cara yang berbeda dalam memperlakukan orang lain. Contohnya saja, jika kita bandingkan perhatian yang diberikan oleh Ayah dan Ibu. Tidak akan apple to apple. 
Mungkin rata-rata Ayah tidak bisa seluwes Ibu dalam membangun komunikasi dengan anak-anak. Bukan Ayah orang yang pertama kali kita tuju untuk meminta ijin main dengan teman-teman. Atau, bukan Ayah orang yang pertama kali tahu bahwa anaknya telah memiliki sosok signifikan di luar keluarga. Dan atau yang lain-lain.
Namun apakah bukti itu cukup menguatkan premis bahwa seorang Ayah tidak menyayangi anaknya?

Begitupun sebaliknya. Mungkin rata-rata Ibu bukan orang yang tepat untuk diajak melakukan hal-hal yang seru. Bukan Ibu orang yang pertama kali mengajarkan kita mengendarai sepeda. Bukan Ibu orang yang mengantarkan kita ke sekolah. Dan atau yang lain-lain.
Namun, lagi, apakah bukti itu cukup menguatkan premis bahwa seorang Ibu tidak menyayangi anaknya?

Mungkin beberapa Ayah hanya dapat berbicara sepatah dua kata di rumah. Beberapa lainnya bahkan bisa menjalin hubungan yang cukup dekat dan emosional dengan anak-anaknya. Mungkin beberapa Ibu terlihat selalu berbicara dengan nada tinggi. Namun beberapa lainnya justru berbicara dengan lemah lembut. 
Namun, siapa Ayah dan Ibu yang tidak menyayangi anak-anaknya?

Karena gue termasuk standar deviasi dari rata-rata respon normal yang mungkin orang akan lakukan.
Mungkin kalo seseorang tiba-tiba nangis di depan gue, gue akan bingung harus bereaksi seperti apa. Langkah paling baik menurut gue adalah mencoba melanjutkan pekerjaan and pretending like nothing happened menunggu dia selesai nangis sambil mengeluarkan semua unek-uneknya, baru gue tanya, itu juga kalo memang gue liat orang yang bersangkutan berniat untuk cerita. Karena gue juga kalo sedih atau nangis, pengennya ditinggal dulu sampai gue benar-benar bisa mengambil ibrah dari kejadian itu.
Bukan berarti gue ngga peduli.

Pernah, dulu, pas masih jaman-jamannya kuliah. Temen gue pulang-pulang dari kampus sore itu langsung nangis di tempat tidur. Gue bingung. Lagi, gue cuman bisa diam sambil terus membersihkan kamar, karena itu pekerjaan terakhir yang gue lakukan. Kemudian langkah terbaik yang menurut gue bisa gue lakukan dan terpikirkan saat itu adalah, abis solat magrib gue langsung cus ke Indomaret depan gang buat beliin dia eskrim coklat. Malem-malem. Jalan kaki. Sendirian. Dan mayan jauh. Cuy.
Alhasil, pulang-pulang gue tanpa ngomong apa-apa langsung memberikan eskrim terbaik yang bisa gue beli di Indomaret depan gang tadi dengan penuh perjuangan dan keikhlasan. Dan beliau akhirnya cerita sendiri sambil makan eskrim WKWK.

Jadi kesimpulannya, gitu deh. 
Jangan berlagak sok tau hanya bermodalkan sama asumsi elo. Sama apa yang lo liat cuman dengan mata, dan pemikiran lo yang baru punya pengalaman ketemu 1/1.000.000.000 penduduk bumi.
Ibu yang melahirkan kita aja belum tentu tau segalanya tentang kita-apa yang kita pikirkan, ya apalagi orang lain.

Oleh sebab itu, biasakan positive thinking sama apapun. 
Karena proses mencari itu juga memerlukan sebagian dari fungsi otak dan tenaga. Jadi untuk apa dihabiskan untuk mencari-cari hal yang negatif. Stop being a slave to your emotions.
Kalo ada yang gemes-gemes, inhale-exhale-in aja. Berdoa sama Tuhan.
Kalo kata Ustadz Khalid, "Siksaan Allah itu sangat pedih untuk orang-orang dzalim. Jadi gausa takut, gausa repot-repot buat bales"

See you.
Assalamu'alaykum Warahmahtullah




Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor