Kasih ibu sepanjang masa kasih anak sepanjang galah (?)
It's 04.33 WIB, by the way.
Hari ini saya kepikiran akan sesuatu.Randomly saya kepikiran perihal muamalah orang tua-anak (dan vice versa) dalam islam.
Kita pasti sering mendengar tuntutan-tuntutan tentang berlaku baik terhadap orang tua. Birrul walidain adalah topik yang akan dengan sangat gampang dapat kita temui dalam sumber referensi manapun. Lalu kemudian timbul pertanyaan di otak saya nan sempit ini, ada ngga ya anjuran senada dari orang tua terhadap anaknya?
Dimulai lah perjalanan riset kecil-kecilan saya dengan mencari referensi terhadap kewajiban berperilaku baik terhadap orang tua lebih dulu. Dalam beberapa rujukan, kita dianjurkan (secara eksplisit) untuk berperilaku baik terhadap orang tua. Misalnya dalam beberapa dalil berikut:
Kita pasti sering mendengar tuntutan-tuntutan tentang berlaku baik terhadap orang tua. Birrul walidain adalah topik yang akan dengan sangat gampang dapat kita temui dalam sumber referensi manapun. Lalu kemudian timbul pertanyaan di otak saya nan sempit ini, ada ngga ya anjuran senada dari orang tua terhadap anaknya?
Dimulai lah perjalanan riset kecil-kecilan saya dengan mencari referensi terhadap kewajiban berperilaku baik terhadap orang tua lebih dulu. Dalam beberapa rujukan, kita dianjurkan (secara eksplisit) untuk berperilaku baik terhadap orang tua. Misalnya dalam beberapa dalil berikut:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”.
(QS. An Nisa: 36)
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”.
(QS. An Nisa: 36)
قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَلَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاۚ
“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua.”
(QS. Al An’am: 151)
(QS. Al An’am: 151)
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”
(QS. Al Isra: 23)
(QS. Al Isra: 23)
Birrul walidain juga diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها، قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: ثُمَّ برُّ الوالِدَيْنِ قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهادُ في سَبيلِ اللَّهِ قالَ: حدَّثَني بهِنَّ، ولَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزادَنِي
"Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla?”. Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”.Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah”. Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Sumber: https://muslim.or.id/47127-perintah-untuk-birrul-walidain.html
Sumber: https://muslim.or.id/47127-perintah-untuk-birrul-walidain.html
Bahkan terdapat ayat yang mengabarkan larangan yang sangat deskriptif dan spesifik seperti tidak boleh berkata "ah" pada orang tua.
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)
Sumber: https://rumaysho.com/26511-jangan-berkata-uff-ahh-kepada-orang-tua.htmlHal ini menjadi menarik karena anjuran yang sama jarang kita dapatkan pada kondisi sebaliknya. Ternyata sumber berupa ayat Alquran maupun Hadits yang membahas hal tersebut amat sangat minim (at least itu yang saya dapatkan dalam riset kecil-kecilan saya). Yang saya temukan ketika mencari rujukan terhadap kewajiban berlaku baik terhadap anak justru lebih merujuk kepada memperlakukan anak-anak (secara general) dengan baik dan lemah lembut.
لَيْسَ مِنَّا؛ مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا
Mungkin karena itu pula peribahasa "kasih ibu sepanjang masa kasih anak sepanjang galah" diciptakan.
لَيْسَ مِنَّا؛ مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا
“Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil.”
(HR. Tirmidzi no. 1919)
(HR. Tirmidzi no. 1919)
يَا رَسُولَ اللَّهِ بَايِعْهُ. فَقَالَ: «هُوَ صَغِيرٌ»، فَمَسَحَ رَأْسَهُ، وَدَعَا لَهُ
”‘Wahai Rasulullah, tolong bai’atlah dia.’ Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Dia masih kecil!’ Maka, Nabi mengusap kepalanya dan mendoakannya.”
(HR. Bukhari No. 7210)
Sumber: https://muslim.or.id/81800-begitu-besarnya-perhatian-nabi-untuk-anak-kecil.html
(HR. Bukhari No. 7210)
Sumber: https://muslim.or.id/81800-begitu-besarnya-perhatian-nabi-untuk-anak-kecil.html
Dan yang lebih menariknya lagi adalah, instead of menemukan rujukan tentang kewajiban mencintai anak, justru yang berkali-kali ditekankan baik dalam Alquran adalah pernyataan bahwa anak adalah ujian bagi orang tuanya. Sehingga di dalam Alquran sering kali kita dapati kata anak disandingkan dengan kata harta.
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ…
“Sesungguhnya harta dan anak-anak kamu adalah ujian bagi kamu.”
(QS. At-Thaghabun[64]: 15)
(QS. At-Thaghabun[64]: 15)
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ
"Dijadikan indah pada pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)."
(QS. Ali Imran [3]:14)
(QS. Ali Imran [3]:14)
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan."
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan."
(QS. Al Kahfi [18]:46)
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبُُ وَلَهْوُُ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرُُ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرُُ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak."
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak."
(QS. Al Hadid [57]:20)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتُصْفِحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar."
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar."
(QS. At Taghabun [64]:14-15)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ , وَاعْلَمُوا أَنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَأَنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرُُ عَظِيمُُ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan RasulNya, dan juga janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu padahal kamu mengetahui. Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar."
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan RasulNya, dan juga janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu padahal kamu mengetahui. Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar."
(QS. Al Anfal [8]:27-28)
Sumber: https://almanhaj.or.id/49333-buah-hati-antara-perhiasan-dan-ujian-keimanan-2.html
Hal tersebut seakan-akan menyiratkan bahwa Allah ‘Azza Wa Jalla tau betul bahwa tanpa diberikan perintah pun, kita sebagai manusia secara kodratnya pasti akan mencintai anak-anak kita selayaknya kita mencintai harta (?)
Hal ini pun sekaligus menjadi bagian yang menyesakkan layaknya klimaks dalam sandiwara-sandiwara bertema drama dan duka. Menyadari kenyataan bahwa orang tua tidak butuh alasan dan ancaman neraka namun bisa mencintai anak-anaknya sedalam samudera--mengutip istilah yang sering dipakai orang-orang. Namun di sisi lain, anak-anak justru butuh disokong dengan dalil, perintah, dan juga balasan pahala sedemikian rupa untuk dapat selalu berlaku baik kepada orang tua. Walaupun kita sebagai anak secara naluriah pasti memiliki rasa kasih sayang kepada orang tua, namun sepertinya jikalau pun diukur dengan satuan ukur, hasilnya tidak akan pernah setara.
Mungkin karena itu pula peribahasa "kasih ibu sepanjang masa kasih anak sepanjang galah" diciptakan.
Comments
Post a Comment