Menjadi burung
Dulu saya pikir akan lebih baik kalo saya dilahirkan menjadi burung saja. Tapi ternyata, setelah saya pikir-pikir lagi, orang kaya saya ngga akan mampu untuk menjalani kehidupan seekor burung—bahkan burung pun punya kelebihan dibanding manusia, bukan?—yang makan cukup untuk hari itu, dan kembali bergerilya saban pagi untuk kembali mengisi perutnya dan keluarganya yang-hanya-cukup untuk hari itu saja.
Ah, terlalu berisiko untuk orang semacam saya yang selalu khawatir dengan ketidak-kepastian, sesederhana menghadapi kalimat "ntar kita liat dulu, gampang~" aja saya kelabakan.
Hidup saya selalu diisi oleh ocehan-ocehan kecil dalam kepala:
"Eh, gausa ah, ntar..."
"Emang lo yakin nanti bakalan..."
"Jangan ah, belum tentu..."
Kadang saya penasaran. Apakah semua otak manusia seberisik ini?
Comments
Post a Comment