Standar
Minggu
kemarin saya ikut andil dalam sebuah project sebagai field surveyor dimana saya
harus merampungkan beberapa data dengan objeknya yang adalah masyarakat kelas
menengah-menengah kebawah-pada sektor informal.
Ini merupakan
salah satu pengalaman yang berkesan bagi saya. Selama itu saya mendapati diri saya yang amat
sangat kurang peka. Hal yang paling menohok hati adalah mendengar curahan hati mereka
yang mungkin belum pernah tersampaikan ke orang lain--karena memang tidak ada
tempat untuk itu.
Mereka tidak mungkin menceritakan kesusahan mereka-untuk sekedar mengirim uang 1,5 juta ke kampung halaman-kepada anak dan istri mereka, while di perantauan mata pencahariannya cuman pedagang bakso, karena di dalam benak mereka biarlah itu yang menjadi beban mereka.
Mereka tidak mungkin menceritakan kesusahan mereka-untuk sekedar mengirim uang 1,5 juta ke kampung halaman-kepada anak dan istri mereka, while di perantauan mata pencahariannya cuman pedagang bakso, karena di dalam benak mereka biarlah itu yang menjadi beban mereka.
Hal-hal
itu yang akhirnya membuat saya semakin bersyukur dan membuat saya sadar bahwa hidup
saya tidak seminus yang saya fikirkan hanya karena saya terlalu sering melihat
ke atas.
Saya pernah mendengar suatu kajian, ini Ustadz
bertanya kepada jama’ah yang hadir.
"Temen-temen, apa lawannya hidup?"
"Mati"
"Lawannya tertawa?"
"Nangis"
"Lawannya kaya?"
"Miskin"
"Sekarang kita cek jawaban Alquran. QS. An Najm: 44,
'dan bahwasanya Dia lah yang menghidupkan dan mematikan.' Anda benar disini.
QS. An Najm : 43, 'dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan
menangis.' Anda benar lagi disini. Nah, sekarang lihat yang ini. Tadi apa
lawannya kaya?"
"Miskin"
"QS. An Najm: 48, 'dan bahwasanya Dia yang
memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.' Jadi sebetulnya
ketika Allah menciptakan kita, rezeki kita 'cukup', ga ada yang miskin. Yang
menjadikan miskin itu perasaan anda yang tak pernah cukup."
Di Indonesia mungkin akan ada banyak sekali orang seperti
itu yang dapat kita temui. Society secara tidak langsung telah meng-influence
kita, mendikte kita akan standar-standar semu yang dengan sengaja diciptakan
dan dipenetrasi ke dalam masyarakat. Sehingga menjadikan kita dengan gampangnya menjudge orang lain based on standar-standar tadi.
Contoh paling dekat misalnya. Saya sangat senang naik
kereta (kalo sepi ya), karena kereta adalah tempat dimana saya bisa melihat orang-orang
yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya senang menerka-nerka, kira-kira apa hal yang
sedang dipikirkan oleh mereka-mereka ini?
Ibu-ibu ini yang mungkin sedang memikirkan anaknya yang ditinggalkan bersama pengasuh di rumah, atau mba-mba itu yang mungkin sedang tidak baik dengan pacarnya sehingga raut mukanya kusut dari awal ia memasuki pintu kereta, dll.
Ibu-ibu ini yang mungkin sedang memikirkan anaknya yang ditinggalkan bersama pengasuh di rumah, atau mba-mba itu yang mungkin sedang tidak baik dengan pacarnya sehingga raut mukanya kusut dari awal ia memasuki pintu kereta, dll.
Seru aja begitu. Ketika ada banyak orang di dalam suatu
ruang yang sama tetapi memikirkan hal yang jauh berbeda antara satu dengan yang
lain.
Dan balik ke masalah standar tadi. Di kereta, ketika
menemukan penampilan orang yang sekiranya melenceng dari standarnya mereka,
pasti akan mendapatkan respon yang juga melenceng.
Misalnya nih, standar cantik itu dilihat dari wajah yang
putih, mulus. Sehingga ketika kita ketemu orang yang kulit wajahnya agak gelap,
jerawatan, dll maka yang ada di benak kita akan, “ini si mba nya jerawatnya
begini bangetnya”. “ini orang kok item bener ya”. Atau misalnya lagi, standar keren
itu dilihat dari pakaiannya yang branded, dan ketika ketemu orang yang rada
berbeda, respon kita lagi-lagi akan bersifat judgmental seperti, “buset dah ni
orang dandanannya aneh banget", "freak banget", “alay banget deh, ini mah style-an
taun 2000 berapa ini pas foto selfie masih diambil dari atas pake kamera
belakang” , dan sebagainya.
Kita secara tidak sadar sudah didoktrin sehingga kita cenderung menetapkan standar atas segala sesuatu yang
sebenarnya tidak harus kita lakukan kalau kita paham bahwa setiap manusia itu
berbeda dan mempunyai keunikan masing-masing.
Kenapa kita harus menggantungkan diri pada standar semu
tadi? Seharusnya kita memakai standar diri kita sendiri dalam hal apapun. Hal
baik apa yang kiranya kemarin belum bisa kita realisasikan, ya kita
realisasikan hari ini.
Kita punya standar sendiri, tidak perlu menggunakan standar orang lain. Karena kita semua
mempunyai titik nol yang berbeda pada garis yang berbeda. Anggap lah hidup
masing-masing dari manusia adalah seutas tali yang setiap talinya punya panjang
yang berbeda yang merupakan representasi dari usia mereka. Sebut saja ia tali hidup. Tali hidup manusia ini bak garis
bilangan. Ketika kita sedang berada pada titik 1, dan orang lain pada titik 3,
maka kita akan menemukan diri kita seakan dalam kemunduran yang amat sangat. Sedang
kita tidak tahu bahwa mereka sebenarnya berjalan dari titik -2. Meanwhile kita
memulai perjalanan dari titik 0.
Dan hal
yang paling penting adalah kita terkadang lupa bahwa setiap manusia mempunyai
panjang tali yang berbeda.
Comments
Post a Comment