Mari tebar kebaikan!
Mari saling mengingatkan dalam kebaikan!
Teman 1
“Teringat suatu ketika lagi liburan SMA,
kita lagi main dan ketawa-ketawa dan tiba-tiba ke bilang ‘Ke kapan pake kaos kaku dan kerudung dua
lapis?’ Saat itu aku respon, ‘Hah? Wkwk kapan ya wkwk’, dan ke nilang
‘Sekarang yuk mah? Nanti aku ajarin gimana pake kerudung dua lapis, biar ngga
tembus pandang dan pake kaos kaki supaya nutup aurat.’”
Teman 2
“Tiba-tiba teringat nasihat dari seorang
teman (dia pasti lupa pernah bilang ini, jadi kangen sharing bareng).
‘Apapun yang
kita lakukan, pastikan itu menjadi ibadah kita kepada Allah. Belajar kah itu,
Kerja kah itu, atau apapun bisa bernilai ibadah jika di niatkan untuk Allah.’”
Teman
3
“Menurut
dia, seseorang boleh selo asal ga lewat batas. Kita perlu selo-selo gitu untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini.
Tapi kalo menyangkut "perasaan" orang lain, semuanya ga akan
sesederhana itu.
PS:
Queen, if you're reading this, I want
to say it was really nice talking with you ^^”
Teman 4
"Ca kalau udah bahas bginian sama lo
tuh adem rasanya kebuka ini otak:" mata melek:" tapi hati
dagdigdug:"
Mungkin Allah udh ngirim lo buat nyadarin
gue kali yaaaah?:'("
Jujur,
saya seneng banget-banget pas tau kalo ternyata apa yang saya keluarkan ngga
selamanya ngga ada artinya.
*nangis
swarovski*
Kita terkadang tidak tahu kalo apa yang
menurut kita adalah hal yang biasa-baik itu berupa omongan ataupun
perbuatan-dapat diingat oleh orang lain sebagai sesuatu yang bermanfaat. Saya
pun sering merasakan hal yang sama. Saya ingat, teman sekamar saya pernah ngomong,
“Hati orang ngga ada yang tau, ca”. Mungkin kalo saya tanyakan sekarang,
dia juga udah lupa pernah ngomong tujuh kata itu. Tapi omongan itu masuk banget ke hati saya pas saat itu, hal tersebut
membuat saya sadar kalo sebenarnya saya ngga boleh dengan seenak jidat berprasangka ke
orang lain dengan hanya berdasarkan persepsi saya.
Saya bukan orang yang baik.
Terkadang ketika ingin berbuat kebaikan pun saya masih suka berpikir panjang.
Seperti apa yang pernah dikatakan oleh dosennya teman saya, “Orang-orang
sekarang mikirnya ‘what’s in it for me?’”. Saya pun termasuk ke dalam ‘orang-orang
sekarang’ itu, suka tidak suka, mau tidak mau. Tetapi saya selalu mencoba untuk
bisa berbuat baik kepada orang lain. Ya tidak apa-apa, walaupun awalnya sedikit
terpaksa. Ikhlas itu memang susah. Ilmu yang paling sulit di dunia adalah
ikhlas. Tetapi kita bisa belajar pelan-pelan untuk ikhlas.
Saya pernah mendengar sebuah kajian yang menjelaskan
bahwa ketika kita membantu orang lain, mungkin kalo kita melihat dari kacamata
dunia, terkesan kaya kita yang disusahkan, kita yang berkurang dari segi
finansial. Tapi sebenarnya bantuan itulah yang membuat hidup kita berkah.
Setiap bantuan yang kita berikan ke orang lain itu lah yang akan dicatat
sebagai amal kebaikan yang nantinya bisa kita Idi akhirat. Karena sejatinya kita berbuat baik itu bukan untuk
orang yang kita beri bantuan, tapi untuk kita sendiri.
Jadi, teruslah berbuat baik, teruslah mengingatkan dalam kebaikan, teruslah menyebarkan kebaikan. Karna berbuat baik tidak akan membuat kita rugi.
Karena, apalah yang ingin kita kejar lagi?
Apalah yang kita cari dari dunia yang fana
ini jika pada akhirnya kita semua berujung mati?
Comments
Post a Comment