Santuy
Sekarang, saya mulai berpikir untuk menjadikan kebahagiaan diri saya sebagai prioritas. Tidak perlu membebani diri dengan hal-hal yang memang tidak layak untuk dijadikan beban. Menghabiskan hari dengan keluarga tercinta, sahabat, teman-teman, belajar hal-hal baru, bertemu orang baru, tidak belajar dan bekerja terlalu keras, tidak terlalu memikirkan pandangan jelek orang-orang lain jika apa yang saya lakukan sudah merupakan hal yang benar, karena apapun yang kita lakukan people will always judge. Dan saya lebih memilih untuk tidak mendengarkan orang-orang lain sekarang, kecuali orang-orang yang saya percaya ya. Pokoknya apapun yang membuat saya bahagia deh.
Akhir-akhir ini saya pun mulai berpikir bahwa saya tidak perlu membentuk hidup yang sempurna-sempurna banget, atau yha seperti pengennya orang-orang pada umumnya agar bisa kelihatan bahagia dan mempunyai hidup sempurna di mata orang lain. Karena setelah 20 tahun lebih saya hidup di dunia saya akhirnya sadar bahwa terlalu menggantungkan diri pada persepsi sosial tidak selamanya baik. Toh tanpa adanya pernyataan dari mereka-mereka bahwa saya bahagia, ya saya tetap bahagia. Walaupun memang sih merupakan hal yang wajar kalau manusia membutuhkan pengakuan dari orang lain. Tapi ya, bisa di kontrol lah ya.
At least, hem. Mungkin memang Tuhan sengaja menciptakan orang-orang seperti saya untuk menyeimbangkan populasi manusia-manusia yang gigih diluar sana. Layaknya keburukan ada untuk menyeimbangkan kebaikan, yin ada untuk menyeimbangkan yang, dan lain-lain.
Sekian.
Comments
Post a Comment