Apa yang dikejar?
Saya sering kali mengatakan hal ini ke orang-orang, bahwa saya merasa
sangat bersyukur dengan apa yang saya punya sekarang. Bukan karena
hidup saya sempurna, tapi karena perasaan mencoba menerima yang sudah dititipkan oleh
Allah kepada saya selama ini.
Kadang-kadang saya berpikir, apakah saya akan
bisa sebahagia ini kalo hidup saya dituker sama--let say Nagita
Slavina, Putri Tanjung atau Dian Sastrowardoyo?
Saya ngga bisa langsung
ngomong engga sih.
Karena saya belum pernah berada di posisi itu. Pun, come on, punya
rumah dan kendaraan mewah, duit banyak dan keluarga yang tampaknya selalu
bahagia, siapa yang tak ingin? Tapi ketika saya pikir-pikir
lagi, dengan apa yang saya punya sekarang saja—Alhamdulillah sudah
bisa membuat saya sebahagia ini. Lalu berada di posisi itu, apakah nantinya saya akan
merasa lebih bahagia? Atau justru kadar bahagianya malah sama aja?
Lantas, sebenarnya apa yang saya
kejar?
Makin kesini saya juga semakin merasa
bahwa ada beberapa perubahan yang cukup signifikan dalam diri saya, which is good, karena
perubahan yang saya bicarain disini adalah perubahan yang
rasa-rasanya ke arah yang lebih baik. Dan lagi-lagi saya sangat
bersyukur Allah membukakan cara ini buat saya.
Karena lazimnya menurut saya manusia itu melalui
proses berubah--balik ke Tuhan, umumnya melewati dua cara; yang pertama, karena dia merasa terpuruk banget karena cobaan
yang begitu besar, sampai ngga tau mau ngapain dan lari
kemana, dan yang kedua, karena dia merasa sudah dicukupkan segala yang dia
butuhkan, lalu mentok dengan pertanyaan, “lalu habis ini apa?”
Saya sangat bersyukur menjadi
golongan yang kedua, dengan segala keterbatasan yang saya punya.
Walaupun sampai saat ini saya masih
belum merasa cukup atas apa yang sudah pelan-pelan saya ubah. Namanya
juga iman, banyak ups and downs nya. Pun, saya juga takut—kalo na’udzubillah sampai
dicabut hidayah oleh Allah. Since Rasulullah shallalahu’alaihiwasallam pun
mengkhawatirkan hal tersebut.
Makanya, menurut saya, sebenarnya kita ngga perlu
untuk mengomentari proses berubahnya seseorang. Yang perlu itu menuntun.
Walaupun memang suka gemes sih ngeliat orang-orang
yang tidak sesuai antara apa yang diucapkan/diumbar—contohnya di sosial media,
dengan apa yang dilakukan. Tapi, mungkin ada beberapa hal juga yang mereka
melihat itu di diri kita.
Karena pada hakikatnya kan kita sama-sama
pendosa.
Yang membedakan hanya lah jenis dosa yang
kita lakukan. Ada yang dosanya karena ghibah, tapi ngga pernah
bikin orang lain sakit hati. Ada yang ngga ngeghibah, tapi
sering menyakiti hati orang lain. Intinya, sama-sama punya dosa.
Karenanya melanjutkan hidup dengan terus
menuntut ilmu dan berproses menjadi diri yang lebih baik memang udah yang
paling bener udah..
Kalo kira-kira punya peer yang
memang mau menampung saran, ya boleh dikasi. Tapi buat
yang ngga mau denger, yaudah urusan
dia sendiri berarti itu mah.
Lagipula bukan tanggung jawab kita juga
buat ngomongin hal
yang kita ngga punya
cukup ilmu di dalamnya. Kita cuman punya
hak untuk mengingatkan sesama saudara semuslim. Selebihnya balik lagi ke
pilihan masing-masing.
Toh nanti di hari akhir kita dimintai
tanggung jawab untuk buku amal kita sendiri, bukan orang lain.
Comments
Post a Comment