Emosi
Baru-baru ini saya dapet insight baru terkait sesuatu yang dinamakan paham stoikisme. Walaupun tidak berencana untuk mendalami lebih lanjut tentang stoikisme ini sendiri dikarenakan terdapat beberapa konsep yang tidak sesuai dengan kepercayaan saya, contohnya bagaimana cara stoikisme memandang konsep kematian. Namun saya rasa ada beberapa hal menarik yang bisa saya ambil dari penjelasan ringkas yang saya dapatkan terkait pembahasan tersebut.
Pun terdapat banyak sekali point yang beririsan dari pemikiran ini dengan apa yang saya baca dalam tulisan-tulisan berkaitan dengan kesehatan mental dan nilai-nilai yang saya pegang. Tetapi satu yang ingin saya highlight disini adalah konsep pengendalian diri yang diperkenalkan oleh stoikisme.
"It is not thing that disturb us, but our opinion of them" - Epictetus
Sebenarnya yang menjadi issue dari setiap masalah, setiap emosi negatif yang kita keluarkan adalah bukan berasal dari kejadian itu sendiri, melainkan dari opini atau pikiran yang kita bentuk. Sehingga formula yang didapatkan adalah:
bukan
Kejadian/Peristiwa = Emosi
Jadi jelas disini bahwa ketika kita tidak terlalu "ambil hati" atas sesuatu, maka efek yang ditimbulkan juga tidak akan berlebihan. Misalkan, dalam beberapa kasus, orang paling bisa sedih berhari-hari hanya karena diputusin. Sebabnya apa? Ya karena opini yang dia bangun sendiri, yang menyiratkan seolah-olah karena diputusin dunia akan berakhir. Atau karena dia bukan orang yang baik atau tidak cukup baik, dan atau-atau lainnya.
Dalam hal ini kita perlu mengenal apa yang dinamakan dengan Dikotomi Kendali.
Di mana hal ini berkaitan dengan sebab terjadinya sesuatu, dan skala kontrol yang kita miliki. Bahwa di dunia ini, kita punya hal-hal yang bisa kendalikan, yakni pikiran atau opini kita terhadap sesuatu. Pun yang tidak bisa kita kendalikan, yakni reputasi, pandangan orang, dll. Sehingga yang bisa kita lakukan adalah mengontrol apa yang bisa kita kendalikan, yakni pikiran itu sendiri. Sehingga kita akan dapat mengendalikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita.
Lalu sekarang, mari kita melompat ke pembahasan yang menjadi akar dari semua hal yang berusaha kita lakukan di dunia ini, puncak yang semua orang ingin capai, yakni kebahagiaan.
Sedikit menarik balik pemikiran stoikisme tadi, dalam pemikiran tersebut, mereka mengenal konsep bahagia sebagai kondisi netral dalam diri manusia. Sehingga definisi bahagia bukan karena hanya memiliki emosi yang positif, tapi karena tidak adanya emosi negatif. Bahasa gampangnya, kita boleh aja bete, bosen, sedih, senang apalagi, karena memang sewajarnya manusia memiliki bermacam-ragam emosi. Namun yang tidak dibenarkan adalah when it comes to sesuatu yang berlebihan--dalam hal ini emosi nonpositif yang berlebihan, misalkan, marah berlebihan sejadi-jadinya, pun sedih yang berlebihan sejadinya-jadinya.
Karena faktanya, menurut Yerkes Dodson Curve, stress, yang sering kali memiliki stigma negatif dalam masyarakat pun sebenarnya dibutuhkan untuk manusia berkembang dan berkarya. Kurang stress tidak sehat. Terlalu banyak stress juga tidak sehat. Jadi ringkasnya, yang tidak dibenarkan adalah mengekspresikan emosi negatif secara berlebihan.
Nah, mengerucut lagi, apa yang menyebabkan emosi negatif ini terbentuk?
Sumber dari semua emosi negatif adalah karna kita mengaitkan kebahagiaan dengan hal yang tidak bisa kita kendalikan, contohnya yang dijelaskan di atas, yakni kekayaan, reputasi, dsb. Ya kapan kita bahagianya?
Bahkan ada fakta menarik dari penelitian yang dilakukan oleh Sonja Lyubormirsky, penulis The How of Happiness, yang juga sejalan dengan penelitian Martin Seligmen. Yakni terkait set point atau tingkat kebahagiaan kita yang ternyata 50% nya ditentukan oleh gen yang kita miliki, yaitu tingkat kepositifan saat kita dilahirkan lalu dibesarkan di masa kanak-kanak kita, 10% nya terdapat pada kondisi yang sedang terjadi, dan 40% sisanya terdapat pada pikiran atau kegiatan yang kita lakukan untuk mengubah tingkat kebahagiaan.
Setelah melewati bahasan sebab dan akibat, sekarang kita sampai pada bagian konklusi. Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk mengantisipasi dampak-dampak negatif yang mungkin akan ditimbulkan?
Dulu, saya sempat berfikir bahwa sepertinya kesalahan saya terlalu menganggap sesuatu itu remeh, Sehingga ends up with saya yang menjadi sering melupakan hal yang terjadi. Di satu sisi ini baik sih, karena saya jadi tidak terlalu lama bisa marahan sama orang lain. Tapi di sisi lain, kok saya merasa agak aneh ya.
Namun ternyata, hal itu merupakan sesuatu hal yang sangat amat wajar. Karena seyogyanya, emosi itu memang tidak bertahan lama. Kita manusianya sendiri yang membuat emosi itu menetap lama dengan mendramatisasi kejadian-kejadian yang ada.
Yang membuat emosi negatif bertahan lama adalah karena kita yang memilih tenggelam dalam keadaan yang membuat kita emosi. Padahal emosi itu sendiri durasinya singkat. Apapun bentuknya, mau senang, sedih, kesel, marah, dll.
Sehingga yang perlu kita lakukan ketika dihadapkan dengan kondisi-kondisi yang memungkinkan untuk memicu terbentuknya emosi negatif adalah dengan tidak menenggelamkan diri dalam pikiran-pikiran negatif tadi. Ragukan pikiran. Tanyakan berkali-kali ke diri kita,
"Apa iya aku harus marah?"
"Apa iya aku harus sesedih ini?"
Dan last but not least, perbanyaklah mendengar. Maka kita secara tidak langsung bisa melakukan studi-banding terhadap hidup orang lain. Sehingga kita bisa mengevaluasi diri sendiri, "apakah masalahku memang sebesar itu, atau memang aku yang menjadikannya telihat besar?
Comments
Post a Comment