Di dunia yang makin tak menentu ini, mendapatkan informasi yang kredibel dan saintifik adalah sebuah privilese.
Mungkin bagi sebagian orang, bahkan sebenarnya nyaris seluruh manusia yang saya temui akan questioning dan judging atas keputusan saya untuk bermasker ria saban waktu.
Sebenarnya, alasan paling utama adalah karena saya takut menghadapi penyesalan. Mengingat banyak sekali berita kematian di tengah-tengah saya (dan kita).
Apakah saya percaya penyebab kematian-kematian tersebut karena COVID-19? Ofcourse, I do. Saya sangat menghormati ilmu pengetahuan dan sains (selama tidak berseberangan dengan agama yang saya anut), karena saya paham ada proses panjang di balik itu semua. Tidak seperti proses penyebar hoaks membuat informasi palsu dan tidak berdasar lalu menyebarkan hal tersebut for the sake of.. bahkan saya ngga tau motif mereka apa. Tanpa memikirkan eksponensial efek yang akan ditimbulkan dari tindakan tidak bertanggung jawabnya mereka. Biar dikata paling tau gitu kali? Atau gimana ya?
Balik lagi, sebenernya to be honest dengan keadaan pandemi yang menahun ini, saya sudah sangat kehilangan asa untuk menjaga diri sendiri. Bahkan mungkin saya sudah beberapa kali terinfeksi, namun alhamdulillah karena sumbangsih (yang ngga tau sih signifikan banget atau engga) dari dua dosis vaksin yang saya dapat, gejalanya tidak berapa kentara.
Namun, alasan mengapa saya masih setidaknya menjaga diri dengan protokol kesehatan, walaupun bahkan orang terdekat saya tidak acuh, adalah sesederhana karena saya takut diminta pertanggung jawab akan hal itu. Sesempit-sempitnya ya oleh diri sendiri. Na'udzubillah, kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada orang terdekat karena hal tersebut dengan keadaan saya yang tidak acuh sama sekali dan berbuat sesuka hati, saya takut akan penyesalan yang akan saya rasakan setelahnya.
Dan yang kedua adalah karena beberapa kenalan yang menghadapi kehilangan teramat dalam oleh orang tercinta selama pandemi ini. Saya rasa amat sangat tidak bijak jika saya tidak menjaga diri, dan pada level tertentu di beberapa orang bahkan menafikan eksistensi pandemi sendiri. Sakit.
Yang lebih sakit adalah yang terus menyebarkan hoaks tentang itu mulai dari yang masih bisa dicerna dengan akal hingga yang paling tidak rasional seperti vaksin yang bisa terkoneksi bluetooth.
Rasa-rasanya hal tersebut saling bantu membantu dalam mendiskreditkan kehilangan-kehilangan yang telah sama-sama kita rasakan dua tahun terakhir.
Bukan berarti dalam hal ini saya totally pro terhadap segala kebijakan yang ditetapkan dengan menutup mata. Namun poinnya adalah setidaknya jika benar-benar ingin menyampaikan suatu pemikiran, sampaikan sumber dan penelitiannya. Sekurang-kurangnya jadilah orang yang bertanggung jawab atas diri sendiri, atas apa yang diutarakan dari mulut sendiri.
Contohnya pada penelitian baru-baru ini tentang risiko miokarditis dan perikarditis pasca vaksin COVID-19 Moderna dan Pfizer. Hal ini tentunya dapat menjadi bahan konsiderasi yang valid. Karena dapat dibuktikan secara ilmiah dan sudah diteliti pada beberapa sampel kejadian. Hal ini pun menjadi bahan pertimbangan saya, atau mungkin lebih tepatnya bahan evaluasi, mengingat saya baru mencari tau tentang hal tersebut setelah mengalami KIPI pasca booster yang cukup menyiksa.
Dan sekarang, sampai lah kita pada hitungan genap dua tahun setelah kasus pertama covid di Indonesia. Rasanya tidak banyak yang berlalu sejak peristiwa itu. Seolah-olah waktu saya, (dan mungkin kita semua) terhenti di 2020. Tidak banyak harapan, nampaknya untuk dapat menghirup udara segar saja sudah menjadi satu hal yang akan sangat kita syukuri.
Terakhir, semoga nyawa-nyawa yang telah hilang mendapatkan ampunan dan rahmat Allah tabaaraka wa ta'ala.
Dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran serta kemampuan untuk dapat menilik ibrah dari setiap kejadian yang berlalu.
Allahumma aamiin.
[Tulisan ini dibuat pada 5 September 2021 dengan beberupa perubahan.]
Comments
Post a Comment