Going Offline
Hi. Ini hari keempat semenjak percobaan digital minimalism saya yang ke-sekian kali. Kali ini masih dengan fokus yang sama, yaitu mencoba untuk mengurangi intensitas penggunaan Instagram yang lambat laun kian mengikis produktifitas dan ketenangan batin. I don’t know why. Padahal saya termasuk tipikal orang yang selalu berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang memang saya tidak punya kuasa untuk kontrol. Since beberapa tahun terakhir saya mencoba untuk mengimplementasikan filosofi stoa yang menurut saya cukup kompatibel dengan tipikal orang seperti saya. Namun untuk hal ini rasanya kok agak berat ya, Bun. Meskipun saya sudah pernah berkali-kali me-rebuild intensitas saya dalam mengakses Instagram. Namun nampaknya tidak menghasilkan outcome yang cukup signifikan.
Dan kali ini, saya di-support
oleh salah satu produk sastra dalam negeri yang sudah cukup lama ingin saya
baca, namun nampaknya takdir memang ingin menempatkannya dalam genggaman saya
pada masa yang tepat. Singkat cerita, akhirnya saya bisa membaca buku ini secara
transaksional dengan seorang teman yang katanya cukup berat untuk dapat
meminjamkan buku ke orang lain. Sehingga saya pun menawarkan transaksi pinjam
silang, jadi kita bisa sama-sama menguntungkan dengan simbiosis mutualisme yang
kita lakukan. Everybody’s happy, right?
Judulnya Going Offline, karya
salah satu jurnalis wanita terbaik yang dimiliki Indonesia sebelum memasuki
masanya mba Najwa Shihab, yakni Desi Anwar. Buku ini bercerita tentang tendensi
manusia di jaman teknologi yang melesat cepat seperti sekarang ini untuk
menjalani hidup autopilot akibat distraksi sana sini, sehingga membuat kita
tidak bisa benar-benar mengapresiasi kehidupan yang kita jalani.
Ada satu bagian dalam buku ini yang
cukup menarik bagi saya. Beliau menyampaikan pendapatnya tentang orang-orang yang mulai mengalami ketergantungan
dengan segala kemudahan yang disuguhkan oleh teknologi dengan dalih untuk menghemat
waktu sehingga lebih efektif dan agar dapat dialokasikan untuk hal lain yang lebih bermanfaat,
“katanya”. While faktanya ternyata, the only thing yang kita lakukan
adalah never-ending scrolling, bahkan hampir di semua timeline dari setiap
akun yang kita punya pada berbagai platform berbeda.
Cukup menohok. Hal itu pula yang akhirnya
membuat saya membulatkan tekad untuk kembali deactivating akun Instagram saya
dalam beberapa waktu yang belum bisa saya tentukan. Namun untuk ukuran empat
hari--yang masih amat dini sebenarnya untuk bisa dijadikan parameter
keberhasilan--hasilnya cukup melegakan. Saya akhirnya bisa mulai menyentuh
kembali buku-buku yang sempat teranggurkan karena beberapa hal (yang mungkin
sebenarnya hanya dalih saja). Saya juga akhirnya punya waktu lebih untuk sekadar
ngobrol dengan diri sendiri, menulis jurnal, mendengar podcast favorit,
berbincang-bincang dengan anggota keluarga lainnya, dan banyak hal lain yang ternyata
selama ini saya take it for granted. Karena merasa hal tersebut akan
selalu ada, saya jadi merasa tidak perlu takut kehilangan hal-hal tersebut sehingga
saya bisa dengan mudahnya melalui hal-hal tersebut dengan multi-tasking dibarengi
kegiatan-kegiatan lain. Mengobrol sambil menggunakan handphone, misalnya.
Padahal ada beberapa hal yang memang
butuh untuk diresapi lamat-lamat. Karena tidak semua kejadian dapat terjadi dua
kali. Tidak semua orang dapat kita jumpai berkali-kali. Tidak ada yang menjamin kita akan mendapatkan jatah waktu yang sama dengan
hari ini untuk esok hari. Sehingga waktu yang sebenarnya kita punya hanyalah
saat ini. Hanya di detik ini.
Tabik.
“Orang-orang tidak menyadari bahwa yang ada selamanya hanyalah saat ini; tidak ada masa lalu atau masa depan kecuali sebagai memori dan antisipasi pikiran kita.” - Eckhart Tolle
Comments
Post a Comment