Nyesel

"Lo pernah nyesel ngga ngelakuin sesuatu?"

Menurut saya, tidak ada yang perlu disesali sih di dunia ini--kecuali dosa, ya.
Karena sekecil apapun itu, kalau tidak terjadi ya tidak akan membentuk kita yang seperti ini, seperti kita yang ada di detik ini.

Saya pernah menyesal karena sesuatu yang skala efeknya cukup besar bagi hidup saya, dan plis itu rasanya ngga enak banget. Yang ada malah bikin saya, selama itu, menjadi tidak ikhlas menjalani hal tersebut selama bertahun-tahun, dan lebih terfokus memikirkan hal-hal negatif yang ditimbulkan saja

Ini menarik sih, di salah satu postingan yang lalu saya pernah merekomendasikan film yang berjudul The Butterfly Effect (2004) a.k.a Chaos Theory. Film ini konsepnya mirip-mirip sama About Time (2013) dan Donnie Darko (2001) yakni tentang perubahan kecil dalam suatu rangkaian cerita dapat mengubah 180 derajat hasil akhir dari rangkaian tersebut. Yang akan nyambung ke pembahasan yang akan kita bahas sekarang, yaitu Chaos Theory.
Lantas apa itu Butterfly Effect/Chaos Theory?
Mari kita baca dulu jawaban Mbak Wiki.

"Efek kupu-kupu (bahasa InggrisButterfly effect) adalah istilah dalam teori kekacauan yang berhubungan dengan "ketergantungan yang peka terhadap kondisi awal", di mana perubahan kecil pada satu tempat dalam suatu sistem taklinear dapat mengakibatkan perbedaan besar dalam keadaan kemudian. Istilah yang pertama kali dipakai oleh Edward Norton Lorenz ini merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Fenomena ini juga dikenal sebagai sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap kondisi awal. Perubahan yang hanya sedikit pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Jika suatu sistem dimulai dengan kondisi awal misalnya 2, maka hasil akhir dari sistem yang sama akan jauh berbeda jika dimulai dengan 2,000001 di mana 0,000001 sangat kecil sekali dan wajar untuk diabaikan. Dengan kata lain, kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana di kemudian hari."



Pada tahun 1972, Edward Norton Lorenz mempresentasikan pemikiran dan temuannya dalam pidatonya yang berjudul "Predictability: Does the Flap of a Butterfly's Wings in Brazil Set off a Tornado in Texas?" pada pertemuan American Associations for the Advancement of Science di Washington, D.C.

Jadi, lebih kurangnya teori ini menjelaskan tentang ketergantungan sesuatu terhadap kondisi awal. Gampangnya, hal sekecil apapun yang terjadi akan benar-benar berpengaruh dan bisa nge-lead ke perubahan besar. Karena hal ini, saya tiba-tiba jadi berpikir, kalau dulu salah satu pimpinan Belanda tidak menginisiasi gerakan untuk menginvasi Indonesia, pasti Setya Novanto tidak akan dihukum selama 15 tahun penjara. Bisa lebih lama, atau lebih cepat. Karena seperti yang kita tahu, hukum di Indonesia sebagian besar diadopsi dari Belanda yang saat itu menguasai Indonesia. 
Pun menurut saya, selain itu juga ada beberapa keuntungan yang didapatkan oleh Indonesia--disamping kerugian yang bejibun itu, salah satunya pembangunan infrastruktur oleh Belanda serta fasilitas pendidikan yang diberikan kepada sebagian rakyat Indonesia--tertentu.
Memang kesannya seperti masih mengadopsi mental inlander, namun mari kita lihat dari sisi kanan. Mari ambil positifnya. Karena memikirkan hal yang negatif dan postif sama-sama menghabiskan energi. Lantas kenapa kita tidak memilih untuk menghabiskannya pada hal yang lebih bermanfaat?

Balik ke pokok permasalahan tadi. Intinya, segala sesuatu terjadi karena suatu alasan. Dan sayangnya, kita cenderung mengklasifikasikan atau mengkotak-kotakan sesuatu hanya pada koridor hitam dan putih. Padahal dunia ini tidak hanya soal hitam dan putih. Masih ada warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu, serta ribuan derivatnya. 
Contoh kongkritnya, pikiran seperti: "Kalau saya tidak mengambil keputusan ini, pasti jadinya akan begitu". Kecenderungan merumuskan sesuatu hanya 2+2=4. Padahal untuk mendapatkan nilai 4 bisa saja didapatkan dengan menjumlahkan angka 1 dan 3. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلا تَعْجِزَنَّ , وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ


Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan”. (HR. Muslim no. 2664)

Intinya, (by the way saya sudah mengulang kata ini berkali-kali), kita tidak perlu berlarut-larut dalam penyesalan yang menghambat perkembangan diri kita sendiri. Kecuali dosa ya, penyesalan terhadap dosa yang menghambat perkembangan dosa baru ya bagus. Tapi untuk hal lain, kita tidak perlu mencoba menerka-nerka atau try to connecting the dots atau cocoklogi yang sebenarnya tidak 100% benar. Karena hanya Allah yang mengetahui segala sesuatu yang baik bagi kita.

Allah Ta'ala berfirman:

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ


“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Terakhir, sebagai penutup, ada quote menarik yang saya rasa cukup relate dengan apa yang sedang kita bicarakan. Dari penulis buku yang cukup populer sampai ke seriesnya yang booming luar biasa, 13 Reasons Why.

Because it may seem like a small role now, but it matters. In the end, everything matters. 
-Jay Asher

Syekian~

Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor