Data
Berangkat dari salah satu video yang saya tonton di kanal BukaLapak. Dimana pembicaranya adalah seorang aktivitis di era reformasi yang sempat saya idolakan dulu. Saya menghighlight satu poin penting yang menjadi akar dari 15 menit presentasi yang beliau sampaikan, yakni:
"Satu-satunya hal yang membuat kita mampu untuk bertahan hidup adalah kemampuan untuk memproses/mengelola informasi."
Mungkin kedengarannya sepele. Namun sekarang, semua hal akan dilakukan oleh companies, for the sake of data. Even melakukan penyadapan without consumers' consent. Atau lebih tepatnya secara tidak langsung memanfaatkan ketidaktahuan/ketidakpahaman pelanggan. Karena sepertinya rata-rata perusahaan sudah menyampaikan disclaimer lewat terms and conditions atau notifikasi allow permissions. Namun karena kebanyakan dari kita belum menganggap bahwa data pribadi kita adalah hal yang penting dan perlu dijaga penyebarannya, sehingga kita dengan ringan tangan memberikan izin itu kepada pihak lain.
Tanpa data yang akurat, perusahaan-perusahaan start-up seperti BukaLapak, Shopee, dan sebagainya tidak akan mungkin bisa sebesar sekarang. Karena itulah yang menjadi keunggulan mereka dibandingkan unit-unit bisnis lainnya. Yaitu kemampuan untuk mengelola data.
Hal yang pertama kali mengubah pandangan saya adalah ketika satu atau dua tahun yang lalu saya menghadiri salah satu social media, marketing and technology event terbesar di Indonesia, yang diselenggarakan tepatnya di Sency, Jakarta. Salah satu sesi dalam rangkaian acara tersebut adalah pembahasan tentang big data. Dari situ pikiran saya mulai terbuka tentang pentingnya data pribadi (apapun) yang kita punya, even satu kali klik pada peranti lunak yang kita pasang di gawai yang kita gunakan.
Dulu, orang punya informasi, tetapi tidak diverifikasi. Tidak berbasis data, hanya berdasarkan cerita. Orang-orang dulu dibesarkan oleh cerita-cerita. Dulu, orang cukup bangun mitos, sudah cukup membuat orang bergerak. Contohnya Israel. Mereka percaya bahwa mereka adalah the coosen people. Mereka mau berperang. Dan siap mati untuk itu. Begitu pula cerita Majapahit, Mahabrata, dan lain-lain. Tetapi sekarang kita dituntut unutk bisa memverifikasi cerita-cerita dengan data sebagai bukti yang akurat.
Sedikit cerita, proses menyusun skripsi adalah salah satu hal yang paling berkesan dalam hidup saya. Karena sebenarnya kalau ditilik lebih dalam tentang makna filosofis yang ada pada skripsi itu sendiri memang nyatanya cukup dalam. Saya pribadi tidak menyangka proses yang hanya dalam hitungan bulan tersebut akan sebegitu bergunanya dalam kehidupan saya.
At least bagi diri saya ya.
At least bagi diri saya ya.
Saya merasa bahwa proses menyusun skripsi yang kita lakukan pada jalur akademik yang kita tempuh dulu cukup relevan dengan apapun yang kita lakukan di dunia ini. Misalkan sesimpel dalam berbicara, sekarang bukan jamannya lagi berbicara tanpa data atau bukti nyata. Segala sesuatu harus bisa dibuktikan sampai ke akar-akarnya. Karena kalau tidak, apa yang kita ucapkan akan dicap tidak kredibel oleh orang lain atau sering disebut hoax. Begitu pula ketika mendapatkan suatu informasi, yang bersumber dari mana pun. Hal yang pertama kali harus kita lakukan adalah, mencari data pendukung informasi tersebut, kemudian memverifikasi data tersebut.
Pun dalam hal agama. Sebagaimana kita ilmiah dalam ilmu pendidikan, begitu pula dalam beragama. Kita dituntut untuk dapat memverifikasi apapun informasi atau ilmu yang kita dapatkan dari orang lain based on standar yang telah ditetapkan. Misalkan, dalam agama Islam, kita punya Alquran dan Hadits yang menjadi pedoman kita dalam berkehidupan. Sehingga ilmu/pengetahuan apapun terkait ini yang kita dapatkan harus bisa dirunut sampai ke akar. Harus bisa diverifikasi. Kemudian baru boleh diamalkan.
Hal ini pula yang nantinya akan membedakan mana orang yang berilmu, mana yang bukan. Mana yang lebih efektif, mana yang tidak. Karena untuk mendengarkan, membahas dan melakukan sesuatu itu butuh tenaga dan waktu. Jika kita berkutat dengan hal yang tidak valid dan tidak kredibel, sama saja membuang-buang waktu, membuang-buang umur.
Saya ingat suatu ketika atasan saya ingin memberikan tugas ke saya yang deadlinenya hari itu juga. Somehow tugas ini bentrok sama hal lain yang juga harus diselesaikan siang itu. Lalu atasan saya nanya,
"Kira-kira kalau orang lain yang selesaikan itu bisa ngga? Atau lebih cepat mana sama kamu yang selesaikan sendiri? Mana pilihan yang lebih banyak memakan waktu?"
"Saya yang selesaikan aja, Pak"
"Yakin? Berapa lama waktu yang kamu perlukan? Satu jam? Dua jam?"
"Dua jam mungkin, Pak."
"Yasudah, kerja kan."
Dari situ saya belajar kalau rata-rata orang sukses itu tidak mau membuang-buang banyak waktu pada sesuatu yang tidak pasti. Mereka benar-benar berusaha untuk melakukan sesuatu secara efektif--dan syukur-syukur efisien. Karena again, waktu kita tidak banyak.
Ingat, hidup kita tidak lama. Be Effective!
padahal tadi lagi ngomongin data~
Comments
Post a Comment