Menulis
Bicara tentang menulis, aku jadi teringat perkataan salah satu teman (if you read it yur haha) “Kita harus terus aktif menulis. Supaya ada yang bisa kita
tinggalkan di dunia yang fana ini”
Yak. Sebelum mati, ada banyak hal yang sebenarnya ingin aku
lakukan. Tapi dari banyak hal tersebut, aku lebih berharap satu ini akan
terwujud.
Aku ingin meninggalkan kenangan baik bagi orang-orang yang
mengingatku, aku ingin meninggalkan sesuatu yang berguna, yang bermanfaat bagi
mereka, aku tidak ingin mati konyol, mati sia-sia karena hanya menuruti urusan
perutku sendiri saja.
Fitrahnya memang semua manusia itu egois. Yang
membedakannya ya kadar keegoisannya. Atau mungkin memang kadarnya sama,
perbedaan yang lebih signifikan malah pada cara pengendaliannya. Karena aku
yakin, setiap orang pasti memikirkan diri mereka sendiri dulu, walaupun
prosesnya dalam hati atau pikiran mereka, namun pada akhirnya yang lebih bisa
mengontrol, yang lebih bisa menggunakan nuraninya yang bisa menetapkan
keputusan yang baik.
Aku tidak mengatakan mana yang benar atau salah. Karena semua itu
hanya satuan. Sama halnya ketika kau bingung untuk mendeskripsikan beratnya
karung beras, maka diciptakan satuan gram, ton, dan sebagainya. Semua yang ada di dunia itu relatif. Tergantung. Tergantung
siapa subjeknya, tergantung apa objeknya.
Dan semua itu pusatnya pada otak
manusia.
Organ paling luar biasa yang dititipkan Allah SWT. kepada kita.
Manusia membenarkan atau menyalahkan sesuatu tergantung pada banyak hal. Contoh
nyatanya saja, keadaanku sekarang. Aku mendapati banyak hal disini yang
bertentangan dengan apa yang pernah aku percayai, apa yang pernah aku pegang.
Tapi, segala sesuatu yang keliatan tabu di sana, berbeda dengan di sini.
Jadi, di sini akulah yang harus berubah.
Merubah pola pikirku, force me to consider that “ini adalah hal yang wajar, semua orang
melakukan itu”, “ini bukan tindakan tepat, aku akan dianggap aneh” dan
pikiran-pikiran lainnya. Huh, mengacaukan sekali memang. Maka dari itu, aku
butuh orang-orang yang bisa mengingatkan aku bahwa yang aku lakukan itu benar.
Ya namanya juga manusia, tempat salah dan lupa. Itulah gunanya orang lain, untuk menjadi pengingat antara satu dengan
yang lain.
Comments
Post a Comment