14 Desember

Pagi yang sepi. Aku berusaha untuk menghibur diri karena kenyataanya memang I’m not in my own home now. Tidak semenderita yang dibayangkan oleh orang-orang yang belum pernah merantau sih, tapi ya memang sesuatu itu pasti memiliki titik di saat semuanya terasa berat. 

Sama halnya juga dengan perkara ini. Menerima kenyataan bahwa kita sedang hidup di dunia luar dan jauh dengan keluarga merupakan hal yang biasa jika saja dibiasakan, tapi tetap saja ada fase di mana kau merasa kalau itu adalah salah satu cobaan yang berat.

Hidup di dunia yang sebelumnya belum pernah kau lihat itu adalah hal yang mengagumkan sebenarnya. Andai saja semua orang berpikiran seperti itu. Tapi aku yakin, dalam benak setiap orang pasti terpatri pemikiran tersebut walaupun sepintas lalu, namun ada beberapa kondisi yang menjadikan dia mengabur. Contohnya? 
Ya, setiap orang tua pasti menginginkan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya. 
Hey, siapa yang tidak bangga jika anaknya mengenyam pendidikan di universitas terbaik negeri? Di universitas luar negeri? Semua orang tua pasti bangga, tapi ada hal yang lebih dipikirkan oleh orang tua. Something that only they can understand. Setidaknya hal itu yang akhirnya aku sadari. Rasa takut dan cemas orang tua ketika anaknya berada jauh dari pantauannya. Kita tidak akan pernah tahu rasanya sampai suatu saatnya nanti kita menjadi orang tua.

Ya, terkadang manusia-manusia ini memang terlalu egois jika dihadapkan di suatu kondisi antara keinginannya dengan kenyataan yang ada.  Mereka sering lupa bahwa hidup di dunia ini tidak selalu harus memaksakan kehendak sendiri, kau tidak hidup sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan orang lain, untuk saling menegur, untuk saling mengingatkan, karena tidak ada manusia yang sempurna.

Isn’t it?

Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor