Nikmat
Bismillah.
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."
Sungguh.
Seorang teman di
akhir tahun membagikan unggahan salah satu temannya di Instagram yang isinya gini:
“Aku
berkali-kali mikir 2021 kok indah banget ya? Hahaha. Aku pernah nemu VT orang
dia bikin analogi kyk gini: Misalnya kamu punya hadiah trus kamu kasih ke temen
kamu, tapi si temen kamu ini kyknya ga seneng, biasa aja. Trus waktu kamu kasih
ke temen yang satu lagi, dia seneng bgt ternyata. Nah, lain kali ketika kamu
punya sesuatu kamu akan kasih ke siapa? Kemungkinan gamau ngasih ke temen yg ga
excited. Begitu juga mungkin Tuhan ke kita, kalau ketika kita dikasih sesuatu
kita ga bersyukur Tuhan ga ngasih lagi ke kita. Tapi kalau kita seneng, kita
bersyukur sama apa yang dikasih, kita akan dikasih lagi dikasih lagi. Aku pikir
mungkin itu ya yang terjadi di aku. Ketika dikasih sesuatu aku bersyukur, aku
ga minta untuk dikasih lebih, udah cukup bersyukur aja. Tapi malah kyknya ada
aja yag dikasih lagi. Alhamdulillah.”
Cerita sedikit.
Beberapa hari terakhir--tidak, beberapa bulan terakhir lebih tepatnya, kepalaku
dipenuhi perkara rumah kontrakan. Let me tell you something, agar tidak ada
asimetri informasi. Daerah domisiliku sekarang adalah daerah yang
dikelilingi oleh lautan. Sebuah ibu kota yang bahkan cukup sepi untuk disebut
kota. Mayoritas penduduknya adalah pendatang yang kadang sekadar menumpang mencari
nafkah, atau ikut suami/istri yang bekerja. Sehingga kau mungkin tak akan
menjumpai banyak muka pada akhir minggu. Kata orang-orang, rata-rata penduduk
asli kota ini tersapu habis oleh tsunami 17th lalu. Hal ini pula
yang mentenggarai sulitnya mencari hunian yang layak di kota ini. Karena jumlah
penduduk yang minim linear dengan jumlah rumah yang tersedia.
Aku memacu kendaraan untuk pulang ke rumah melewati rerimbunan pohon pinus yang berjejer rapi di sepanjang jalan bak penghuni rumah yang mengajak bicara, “Bagaimana hari ini?”.
Perjalanan yang singkat itu membawaku pada konklusi (disertai rasa syukur) bahwa
ternyata keputusan—yang tidak direncanakan sama sekali—untuk menetap di sini
bukan lah ide yang begitu buruk.
Terhitung
empat bulan kami mencari ke sana ke mari hingga akhirnya sore tadi orang tuaku
memberi kabar bahwa mereka sudah mendapatkan hunian yang—yah walaupun masi banyak ”tapi”nya sih,
namun yaa—masih bisa ditolerir.
Satu
kelegaan menyambangiku sore itu.
Sepulangnya dari rumah calon induk semang, kami lalu memutuskan untuk membeli mie goreng di salah satu warung kopi teranyar se-kota ini. Kami juga membeli keripik untuk jadi cemilan jangka panjang di rumah. Namun kau pasti bingung, apa spesialnya cerita remehku tentang menjajal makanan untuk sekadar mengisi perut ini kan?
Sebenarnya yang menjadi inti cerita ini adalah perasaan yang ikut kurasakan refleksi dari kedua penjaja makanan tadi—ketika mendapati produk yang dijajakannya dibeli oleh orang—perasaan bahagia yang tentu saja jauh dari kata remeh. Semoga Allah memberkahi mereka.
Dua,
kuhitung saja tiga sekaligus, kebahagiaan menyambangiku sore itu.
Hingga aku membatin, “Ya Tuhan, hari ini aku merasa diliputi dengan rasa bahagia yang meluap-luap. Aku sangat bahagia sampai
ingin menangis.”
Benar, bahwasanya semakin kita bersyukur, maka nikmat yang diberikan Tuhan akan semakin nyata tampaknya. Seperti perasaan sekadar bersyukur atas pemandangan yang sebenarnya tiap sore bisa kau nikmati, namun pada suatu waktu menjadi sesuatu yang sangat kau syukuri, ternyata bisa menjadi hal yang mengantarkan rasa syukur-rasa syukur lain ke hadapanmu setelahnya.
Comments
Post a Comment