Kemarin saya tiba-tiba craving for foddies banget. Namun sayang seribu sayang keuangan saya sedang menipis. Tapi saya pengen banget nih ceritanya-wkwk. Jadi saya membatin dalam hati. 'Ya Allah pengen cemilan deh'.
Beberapa saat kemudian, cukucuk tiba-tiba ponakan saya dateng sambil bawa sereal, susu, sama sendok 2pcs. 'Bunda, yuk kita makan sereal'. Wah, rasanya seperti sebuah oase di padang pasir~
Terus, ngga hanya itu, tiba-tiba-lagi-Ayah ngasih Jambu Jamaika hasil panen dari kebun belakang rumah yang masyaAllah merah dan gede banget bre.
Terus saya mikir. 'Wait a minute, pasti ada sesuatu nih yang gue lakuin beberapa waktu terakhir.'
Dalam proses rewind saya itu, sampailah saya pada dua hipotesis yang akan kita jabarkan satu persatu.
Yang pertama. Saya jadi keinget salah satu podcast seorang Youtuber yang saat itu guest nya Dewi Sandra. Mba Dewi (ciye, akrab ceritanya) bilang kalo kita benar-benar jujur sama apa yang kita inginkan, Allah pasti kasih. Seberapa pun jauhnya impian itu dari posisi kita sekarang, insyaAllah akan ada aja jalannya. Dan saya mencoba mengkorelasikan hal ini ke keinginan saya akan makanan tadi. Di mana saya bener-bener yang pengeen banget dan jujur banget *hahaha. Dan voila, sekali kun, bisa kejadian. Walaupun dengan cara yang ngga disangka-sangka.
Terus saya juga inget salah satu kisah.
Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dengan sanad shahih, An-Nasai dan lain-lain, dari Syaddad bin Al-Had bahwa ada seorang laki-laki Arab Badui datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beriman kepada apa yang dibawa oleh nabi dan mengikuti beliau. Badui tersebut berkata kepada nabi, “Aku akan berhijrah bersamamu,” Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat memberikan nasihat agama kepadanya.
Pada Perang Khaibar, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam membagikan ghanimah kepada kaum muslimin. Nabi memberikan bagian kepada para sahabat yang membuat mereka bergembira, akan tetapi ketika pembagian sampai kepada si Badui, tiba-tiba dia menolaknya sembari berkata, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Ini adalah bagian ghanimah untukmu yang berasal dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.”
Mendapatkan jawaban para sahabat, si Badui terpaksa mengambil bagian ghanimah itu tetapi kemudian dia menghadap Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sesampai di hadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, si Badui bertanya, “Harta apakah ini?” “Ini adalah bagian ghanimah yang aku bagi untukmu.” jawab Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kembali orang Badui itu berkata, “Bukan karena perkara ini aku mengikutimu, akan tetapi aku mengikutimu karena aku ingin agar suatu saat nanti aku terkena lemparan panah di sini –sambil menunjuk ke lehernya– sehingga aku terbunuh dan masuk jannah karenanya.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau jujur kepada Allah, maka Allah akan membenarkanmu.”
Setelah itu, kaum muslimin beristirahat sebentar, mereka kemudian melanjutkan lagi penyerbuan terhadap musuh. Di tengah berkecamuknya peperangan, si Badui dibawa menghadap Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan keadaan terkena panah di tempat yang sesuai dengan yang dia tunjukkan sebelumnya. Melihat itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah dia orang yang kemarin?” Para sahabat menjawab, “Benar,” Nabi bersabda, “Dia telah berbuat shiddiq kepada Allah , maka Allah berbuat shiddiq kepadanya.” Selanjutnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengkafaninya dengan baju besi milik Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mendoakannya dan di antara doa beliau adalah,
“Ya Allah, ini adalah hamba-Mu, dia keluar untuk behijrah di jalan-Mu dan terbunuh sebagai syahid. Dan aku bersaksi atas perkara itu.”
Sumber: Kisah-Kisah Pahlawan Generasi Pilihan, Hilmi bin Muhammad bin Ismail, Wafa Press
Selanjutnya, yang kedua.
Di pagi harinya, saya liat salah satu postingan temen saya yang nge-up kajiannya Ustadz Nuzul Dzikri hafidzahullahu ta'ala. Beliau mengutip hadits yang bilang kalo sedeqah itu ngga akan mengurangi harta. Dan berusaha lah istiqamah untuk berinfaq di jalan Allah ketika lapang maupun sempit. Jleb. Nancep banget di jantung. Karena akhir-akhir ini saya mikir, 'kalo mau nyumbang nanti-nanti aja dulu kali ya, nunggu lapang-an dikit' eh ternyata langsung ditegur. Jadinya saya sisihkanlah ceritanya duit yang hanya hitungan satuan ribu itu. Dan masyaAllah, ternyata ngga nyampe itungan hari, setengahnya juga ngga, Allah ngasi nikmat yang bener-bener saya pengen banget di hari itu.
Beneran deh.
Satu-satunya depending on other yang paling positif--dan lebih ke wajib sih jatohnya--itu ya ke Allah.
Ngga bakal kecewa, kalo kita mau mikir ya.
Mantappp. Yang penting tetap berdoa, berusaha dan beryukur ya :D
ReplyDelete