Kontemplasi Akhir Tahun
Dulu saya lebih suka tahu dari pada tempe. Tapi sekarang, saya malah sukaa banget sama tempe.
Contohnya aja berita tentang kasus Menteri yang ketauan korupsi baru-baru ini. Menanggapi hal itu, orang-orang pada sumpah serapah seakan-akan mereka ngga bakal melakukan itu di kemudian hari jika dihadapkan dengan ujian yang sama. Memang, pasti ada orang yang jujurnya jujur banget kaya gitu. Tapi saya sanksi mereka adalah orang yang sama dengan yang koar sana-sini serta mengutuk-ngutuk dan melaknat orang lain. Walaupun memang, tindakannya patut dibenci dan dijauhi. Tapi jangan sampe overclaiming. Ngurusin sesuatu pake duit hak orang lain aja masih ngambil 'duit capek'--atau semacamnya dengan cover redaksi yang lebih enak didengar telinga--yu pada. Baru yang receh bisa kegocek, apalagi yang gede?
Saya pribadi takut banget jadi overclaiming diri saya sendiri. Kaya omongan "Gue rasanya kalo jadi dia ngga bakal kaya gitu deh".
Tau dari manaa anda, heey? Memangnya anda time traveler yang datang dari masa depan?
Ngomongin ini, saya jadi inget salah satu scene di anime Only Yesterday, di mana si pemeran utama setiap liburan instead of jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri, malah ke pedesaan sambil bertani bantuin warga lokal. Karena dia merasa bisa hidup lebih tenang dengan suasana pedesaan yang minim distraksi. Sehingga banyak orang yang kagum sama dia, kaya atasannya dan warga lokal situ. Tapi, ketika dia dihadapkan dengan pilihan untuk bisa hidup selamanya di pedesaan, atau dengan tetap menjalani hidupnya seperti sekarang, dia malah jadi galau banget. Dia merasa ngga siap menghabiskan sisa hidup di desa. Sampe dia mengganggap dirinya munafik, karena ternyata dia ngga secinta itu sama pedesaan. Dia jadi ragu, apakah selama ini dia hanya butuh validasi?
Allah berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 2,
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman' sedang tidak diuji lagi?"
Kalo kata Ustadz Nuzul Dzikri (hafidzahullahu ta'ala),
"Manusia perlu diuji, sehingga keliatan mana yang benar-benar cari akhirat, mana yang cari dunia.
'Eh, lo tau gak kabarnya si Budi? dia keluar loh dari perusahaan kita.'
'Terus?'
'H+1 dia ditarik sama perusahaan syariah'
'Gajinya berapa?'
'70 juta'
'Eh, gila. Yaudah kita keluar aja semua'
Kalau semua yang meninggalkan riba, H+1 langsung ditawarkan kontrak dengan gaji tiga kali lipat, ya keluar semua dari riba.
Kalau konsepnya begitu, siapa yang ngga mau? Sehingga ya ngga keliatan mana yang berjuang mana yang ngga. Mana yang jungkir balik, mana yang aji mumpung.
Karena ngga semua orang niatnya bener. Bahkan mayoritas ada masalah dengan niatnya.
Kecuali yang sedikit aja dari mereka.
Allah ingin yang sedikit itu. Dan kalau ngga ada ujian, ngga akan terbukti mana yang sedikit. Kalau semua santai, semua hiburan, semua gelak tawa, semua main-main, mana terbukti yang sedikit itu?"
PS:
Postingan ini harusnya dipublish kemarin, tetapi salahkan mata saya yang akhirnya ketiduran duluan hemm
Comments
Post a Comment