Kehilangan
Jika diberi pilihan, apa yang akan kau pilih?
Memiliki lebih dulu lalu kehilangan, atau tidak memiliki sama sekali?
Hai.
Hari ini 14 Juni 2020.
2 bulan lewat 4 hari sejak unggahan terakhirku.
Ada banyak yang lahir, banyak pula yang berakhir. Dan akan terus begitu.
Satu hal yang paling aku takuti di dunia ini, adalah kehilangan. Rasanya kita tidak akan pernah siap dengan kata itu. Selama apa pun kita bersiap untuk menghadapinya. Kehilangan seperti selalu punya cara sendiri untuk membuat kita terluka.
Ketika sesuatu hilang dari sisi kita, perasaan sedih yang timbul sejatinya bukan karena hilangnya hal yang menjadi objek, tetapi perasaan memiliki yang kita biarkan tumbuh saban hari.
Mirip-miriplah dengan ungkapan, "yang membuat kamu kecewa itu adalah ekspektasi kamu sendiri"
Kenapa kita bisa tenang mendengar ada tiga motor hilang di parkiran mal yang sedang kita kunjungi?
Karena bukan milik kita. Karena kita tidak merasa memiliki.
Kita merasa memiliki pekerjaan, maka ketika pekerjaan itu raib, kita terpukul.
Kita merasa memiliki keluarga, maka ketika anggota keluarga itu meninggal, kita hancur.
"Kita berantakan karena kita merasa memiliki."
Padahal harusnya kita tahu,
إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ,
"Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan hanya kepadaNya lah kami kembali"
(Al- Baqarah 2:156)
Padahal tiap 17 kali dalam sehari kita mengulang-mengulang,
لحمد للّه رب العالمين
"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam"
Tuhan yang memiliki dan mengatur alam semesta.
Sedangkan kita? Bukan siapa-siapa.
Hanya ciptaan yang diberi pinjaman untuk mengelola.
Memiliki lebih dulu lalu kehilangan, atau tidak memiliki sama sekali?
Hai.
Hari ini 14 Juni 2020.
2 bulan lewat 4 hari sejak unggahan terakhirku.
Ada banyak yang lahir, banyak pula yang berakhir. Dan akan terus begitu.
Satu hal yang paling aku takuti di dunia ini, adalah kehilangan. Rasanya kita tidak akan pernah siap dengan kata itu. Selama apa pun kita bersiap untuk menghadapinya. Kehilangan seperti selalu punya cara sendiri untuk membuat kita terluka.
Ketika sesuatu hilang dari sisi kita, perasaan sedih yang timbul sejatinya bukan karena hilangnya hal yang menjadi objek, tetapi perasaan memiliki yang kita biarkan tumbuh saban hari.
Mirip-miriplah dengan ungkapan, "yang membuat kamu kecewa itu adalah ekspektasi kamu sendiri"
Kenapa kita bisa tenang mendengar ada tiga motor hilang di parkiran mal yang sedang kita kunjungi?
Karena bukan milik kita. Karena kita tidak merasa memiliki.
Kita merasa memiliki pekerjaan, maka ketika pekerjaan itu raib, kita terpukul.
Kita merasa memiliki keluarga, maka ketika anggota keluarga itu meninggal, kita hancur.
"Kita berantakan karena kita merasa memiliki."
Padahal harusnya kita tahu,
إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ,
"Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan hanya kepadaNya lah kami kembali"
(Al- Baqarah 2:156)
Padahal tiap 17 kali dalam sehari kita mengulang-mengulang,
لحمد للّه رب العالمين
"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam"
Tuhan yang memiliki dan mengatur alam semesta.
Sedangkan kita? Bukan siapa-siapa.
Hanya ciptaan yang diberi pinjaman untuk mengelola.
Comments
Post a Comment