Tidak ada orang tua yang sempurna

Tidak ada orang tua yang sempurna.
Yang ada hanyalah orang tua yang selalu berusaha menjadi lebih baik setiap harinya dan selalu menyesali diri karena belum menjadi sosok orang tua yang baik untuk anaknya.

Kita selalu menuntut orang tua seperti ini, seperti itu. Tanpa intropeksi diri.
Apakah kita sudah menjadi anak yang baik untuk orang tua kita?
Apa kita sudah memenuhi ekspektasi dari orang tua kita?
Kita selalu terpaku pada dalih "orang tua tidak paham anak", "orang tua menerapkan pola didik yang salah", atau "orang tua si ini atau si itu tidak lebih baik dari orang tua kita"
Kita selalu merasa bahwa orang tua kita tidak memenuhi ekspektasi "orang tua ideal" yang kita proyeksikan--yang merupakan akumulasi--dari apa yang kita lihat di sekitar.

Sampai kita lupa bahwa orang tua kita juga manusia.
Sama seperti kita.

Kenapa kita boleh membandingkan orang tua kita dengan orang tua lain. Sedangkan orang tua tidak boleh membanding-bandingkan diri kita dengan anak lain. Kita sedang tidak bicara tentang benar salah, karena keduanya merupakan hal yang salah. Membanding-bandingkan adalah hal yang tidak pernah dibenarkan--kecuali evaluasi diri sebagai motivasi menjadi lebih baik atau beramal soleh.
Seakan-akan hanya orang tua yang harus terus menyesuaikan diri, harus terus berubah jadi sosok orang tua sempurna, tapi kita tidak. 
Karena, balik lagi, bagi kita perubahan kita adalah tugas orang tua.

Kita selalu mempertanyakan, "kenapa orang tuaku tidak cukup terbuka dengan perubahan jaman?", "kenapa orang tuaku tidak sesantai orang tua lain?", dan kenapa-kenapa lainnya tanpa mempertanyakan hal yang sama pada diri kita. Dan tanpa mengetahui sebagaimana berjuangnya orang tua kita untuk terus bisa menyesuaikan diri dalam menghadapi kita yang hidup di generasi yang berbeda dengan mereka.

Pernah suatu waktu, saya menemukan satu buku yang sepertinya isinya jurnal harian mama.
Ada satu hal yang membuat saya merasa sangat bersalah.
Disitu tertulis,
"2 Maret 2018. Saya sedih, Dek ica tidak mengangkat hp lagi"
At the moment, saya ngga tahu bahwa mama seterpukul itu. Yang saya pikirkan hanya saya sudah cukup dewasa untuk bisa menjaga diri, sehingga orang tua saya harusnya tidak perlu terlalu khawatir dan terus mengecek di mana keberadaan saya setiap harinya--via telpon, walaupun kami terpisah oleh jarak yang cukup jauh. 
Padahal mungkin, saya dalam posisi yang sama pada waktu yang berbeda, mungkin bertahun-tahun setelah ini, akan melakukan hal yang sama seperti yang mama lakukan.

Ya begitu lah. 
Mungkin, sudah saatnya kita memenuhi kewajiban-kewajiban kita sebagai anak yang baik terlebih dahulu, sebelum kemudian menuntut hal-hal yang kita inginkan.
Tanpa mengesampingkan satu dua kasus yang memang merupakan akibat dari kesalahan mutlak orang tua yang tidak bertanggung jawab tentunya.

Intinya, we attract what we are, and what we're ready for.
Sebelum menuntut hak, tunaikanlah kewajiban dahulu.
Sebelum meminta yang baik, jadilah "yang baik" itu sendiri terlebih dahulu.

Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor