Komentar tanpa ilmu

Kenapa ada banyak orang yang seneng mengomentari sesuatu sedangkan dia sebenernya tidak punya cukup ilmu tentang hal itu?
Apa salahnya bilang tidak tau? Ketidaktauan itu bukan aib kok, kalo sehabis itu kita berusaha untuk mencari tau. Daripada merasa bahwa kita tahu, padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Gue jadi inget tentang satu kisah yang gue denger dari salah satu kajian. Yang peristiwanya diceritakan dalam hadits.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا فِي سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِي رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ هَلْ تَجِدُونَ لِي رُخْصَةً فِي التَّيَمُّمِ فَقَالُوا مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ قَتَلُوهُ قَتَلَهُمْ اللَّهُ أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ

Dari Jâbir Radhiyallahu'anhu, beliau berkata, “Kami berangkat dalam satu perjalanan lalu seorang dari kami tertimpa batu dan melukai kepalanya. Kemudian orang itu mimpi basah, lalu ia bertanya kepada para sahabatnya, 'Apakah kalian mendapatkan keringanan bagiku untuk tayammum?'  
Mereka menjawab, 'Kami memandang kamu tidak mendapatkan keringanan karena kamu mampu menggunakan air.' Lalu Ia mandi, kemudian meninggal.  Ketika kami sampai dihadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, peristiwa tersebut diceritakan kepada beliau Shallallahu‘alaihi wasallam.  
Beliau bersabda, 'Mereka telah membunuhnya. Semoga Allâh membalas mereka. Tidakkah mereka bertanya jika tidak mengetahui? Karena obat dari tidak tahu adalah bertanya. Sesungguhnya dia cukup bertayammum.'”
[HR Abu Daud dalam sunannya dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’, No. 4362]
Baca Selengkapnya : https://almanhaj.or.id/4803-mandi-wajib-orang-yang-luka-di-kepala.html

Dari kisah itu kita belajar kalo kesoktahuan merupakan hal yang salah dan dapat berakibat sangat buruk dalam kasus tertentu.

Gue juga jadi inget pas masi jaman-jamannya kuliah. Gue lagi nungguin bis di halte nih ceritanya. Terus ada ibu-ibu yang kira-kira umurnya 40-50 gitu deh. Nanya ke gue. "Neng, bis yang ke Bandung lewat sini ngga ya?" Nah, disini gue sebenernya agak ragu untuk menjawab, karena ingatan gue samar-samar, tapi gue langsung ngomong, "Oh lewat kok bu", padahal gue masih ragu. Tapi gue soktau. Beberapa saat kemudian bis gue dateng, dan gue pamit. Di jalan, gue baru inget kalo ternyata bis ke Bandung yang gue liat itu di halte kampus, bukan halte tadi.
Sepanjang jalan ke kampus gue diliputi rasa bersalah. Karena kesoktahuan gue. Berakibat buruk ke orang lain. Apa kabar ya ibu tu huhu. Barangnya banyak lagi. Udah berumur pula. Gaktau dah sampe berapa lama beliau nunggu disitu.

Jadi intinya, sejak saat itu, cie, pokoknya sekarang gue udah mengurangi yang namanya soktahu kalo gue belum punya dasar pengetahuan yang jelas. Terlepas apapun konteksnya.
Sehingga jadinya gue suka kesel sama orang-orang yang ngasal aja kalo ngomong, cuman buat ngejar anggapan paling tahu yang heu gaktau deh buat apa itu rasa kesoktahuan dijualin juga gaklaku.

Oleh karena itu, sudah bisa dikurang-kurangi yang gengs, sifat tercelanya, kalo misalkan ngga tau, ya bilang aja, ngga masalah kok, semua orang juga punya sesuatu yang ngga dia tahu. Einstein aja ngga tau hukum sholat dhuha.
Jadi intinya gitu deh, baik-baik ke orang dan diri sendiri, biar kita bisa hidup lebih nyaman di bumi kita tercinta ini.

Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor