23

Mau tidak mau, suka tidak suka, kita pasti akan selalu melewati fase-fase perubahan dalam hidup. Entah itu dari dalam diri sendiri maupun perubahan yang berasal dari luar.

Life after graduation tidak selamanya indah. Bahkan rata-rata kasus dijalani dengan sangat berat. Aku heran kenapa orang-orang selalu terburu-buru ingin menyelesaikan sesuatu. Padahal yang mereka sedang kerjakan mungkin tak akan terjadi dua kali. Tidak dengan keadaan yang sama. Namun sayangnya orang-orang justru selalu berkeinginan untuk melompat-lompati semua tahap dalam hidupnya. Sebelum akhirnya menyesal kemudian, dan merenung, mengapa masa terlalu cepat berlalu?

Hidup dalam kondisi Indonesia dengan orang tua yang selalu menuntut pernikahan usia dini kepada anaknya ternyata tidak se-ringan yang dibayangkan. Apakah memang sekarang cita-cita mayoritas orang tua Indonesia (untuk anaknya) sudah berganti? Dari dulunya dokter atau pns, sekarang, nikah muda?

Aku juga tidak paham betul alasan apa yang mendasari orang tua begitu menyegerakan anaknya untuk menikah. Mungkin masalah waktu? Seperti yang kita tahu bahwa umur kita bisa terhenti kapan saja. Dan mungkin mereka hanya ingin mendapatkan kesempatan untuk sekadar melihat semua anak-anaknya bahagia dengan kehidupannya yang baru. Sesederhana itu.

Ini polemiknya.
Tidak semua orang siap untuk menikah muda. Atau katakanlah di waktu yang mereka rasa belum terlalu tepat. Belum dengan finansial yang mumpuni, kematangan psikis dan mental, serta hal-hal lain yang mungkin akan butuh waktu sedikit lama untuk benar-benar menjadikannya cukup.

Namun, satu alasan yang menghantuiku selama ini.
Aku belum ingin menjalani hidup dengan prioritas yang berbeda. Oh come on. Menghabiskan masa SMA dan kuliah yang jauh dari keluarga. Mengikhlaskan semua momen-momen bersama keluarga yang terlewati dengan tanpa daya. Dan sekarang, ingin aku menikmati kehidupan ini sebentaar saja.

Terkadang aku rindu masa-masa dahulu ketika masih Ayah, laki-laki yang menjemputku sepulang sekolah. Mama yang menyuapi nasi ketika aku hampir tak cukup waktu untuk sekadar melihat jadwal pelajaran di pagi hari karena tertidur di malam hari dan akhirnya kesiangan. Aku rindu masa-masa ketika Kakak, dan Adikku masih bisa untuk bercengkerama semalaman di kamar, tanpa berpikir ada anak yang harus diberi makan, ada suami/istri yang perlu diajak mengobrol, ada urusan kantor yang perlu diselesaikan sebelum esok hari, atau ada tugas kuliah yang harus diemailkan sebelum dini hari.

Kenyatannya adalah,
Aku takut akan setiap perubahan yang menyapa.
Aku takut setelah memutuskan untuk menjalani hidup dengan orang lain, prioritasku tak akan lagi sama. Prioritas ku bukan lagi Ayah-Mama, atau Adik-Kakak.
Dan ternyata, aku takut akan tua.
Aku terlalu takut menjadi dewasa.

Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor