Give prayer a try

"If you do not know how to solve a problem in your life, give prayer a try. As you bring your attention inward and sincerely seek an answer, something sacred within you unlocks the door of inner wisdom"

Aku mengutip kata-kata itu dari salah satu akun instagram favoritku yang sedang mereview buku Haenim Sunim yakni, The Things You Can Only See When You Slow Down.
Aku percaya bahwa setiap langkah dari perjalanan hidup yang dijalani oleh setiap orang pasti meninggalkan hikmah. Pasti. Ketidakpastiannya adalah keputusan untuk mampu mencari dan menerima hikmah itu atau tidak. 

Ada beberapa orang yang kukenal dengan latar belakang penuh asam garam kehidupan, terlihat lebih bijak dibandingkan dengan orang-orang yang hanya menyicicipi manis-manisnya saja dari kehidupan. Setiap orang besar, pasti memiliki cerita yang besar pula yang dibawanya. Intinya adalah setiap orang diberikan cobaan, dengan porsi yang berbeda-beda. Tinggal mereka yang menentukan bagaimana cara mengatasi hal tersebut. 

Tidak jauh berbeda dengan statement yang disampaikan oleh Robin Sharma dalam The Monk Who Sold His Ferarri. Bahwa hakikatnya kita tidak bisa serta-merta mengontrol apa saja yang terjadi dalam hidup kita, ataupun apa yang akan kita hadapi, yang bisa kita lakukan adalah mengontrol diri kita dalam menyikapi masalah-masalah tersebut.

Sehingga ketika kita dihadapkan dengan masalah, yang harus kita lakukan, idealnya adalah--walaupun akan terdengar amat sangat klise--berdoa, dan mencoba menenangkan diri dengan menerima. Walau output dari doa yang kita panjatkan tidak melulu pemecahan masalah secara langsung, namun pasti, membuka kunci kebijaksanaan dalam hidup.

Pada dasarnya kita hidup tidak dituntut untuk menjadi orang yang banyak harta atau terkenal di seluruh penjuru negeri. Namun lebih jauh dari itu, kita ditanamkan nilai-nilai sedari lahir agar dapat menjadi orang yang berakhlak, berakal dan beriman. Bahkan sebelum kita lahir, bapak-ibu kita dulu, dan yang dulu lagi, dititipkan nilai yang sama agar kelak dapat disampaikan dengan baik kepada kita. Tujuannya apa? Ya itu tadi, sesederhana menjadikan kita makhluk yang selalu melakukan kebaikan (baik dalam hubungan vertikal maupun horizontal), tidak membuat orang lain bersedih hati karena kita, dapat berpikir, dan selalu menyertakan Tuhan dalam setiap keputusan yang paling besar sampai yang terkecil dalam hidup. 

Sebenarnya tidak banyak yang diharapkan hidup dari kita. Kitalah yang terlalu membebani diri dengan ekspektasi-ekspektasi yang kita ciptakan. Merasa bahwa ekspektasi tersebut akan menghasilkan kehidupan yang lebih baik. Padahal, belum tentu.

Last but not least, salah satu lagu Kunto Aji dalam album terbarunya berhasil membantuku melihat masalah dengan cara yang berbeda. Maka dari itu mari kita tutup hari ini dengan satu bait dari lagu tersebut.

"Tenangkan hati. Semua ini bukan salahmu. Jangan berhenti, yang kau takutkan takkan terjadi"

Semoga ketenangan dan keberkahan dari Allah SWT. selalu menyertai kita.

Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor