Drama Korea?

Ceritanya saya baru-baru ini dengan penuh kesadaran mencoba melakukan research mengenai kecenderungan perempuan-perempuan--Indonesia--jaman sekarang yang menggilai segala hal tentang perkoreaan.

Akhirnya saya melakukan sesuatu hal yang saya amat saya kutuk selama ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah menonton drama korea. Sehingga total drama korea yang sudah saya tonton seumur hidup (walaupun banyak part yang saya skip namun disini tetap saya masukkan kedalam rekor pencapaian) adalah sebanyak 5 drama. *yeeaay* *backsound khas youtuber*

Dan kesimpulan saya adalah, drama korea itu penuh dengan hal fiktif yang literally fiktif. Terlebih cara mereka mendeskripsikan tokoh pria dengan kepribadian dan fitur yang seakan-akan tanpa cela *fitur loh kaya hape.
Walaupun dalam pandangan mata saya justru kebanyakan dari mereka bahkan sangat sedikit yang enak dipandang mata. Ya 1:10.000 lah. Apalagi dengan perpaduan gesture dan gaya berpakaian yang yah, kita semua tau. Ini opini pribadi saja loh ya. Ga penting juga, ga akan bisa menggiring opini publik kok. Jadi jangan diserang huhu

Poin selanjutnya dari kesimpulan saya, ga semuanya buruk kok heuheu. Karena setiap dari mereka saya pasti menemukan hal positif, contohnya ini, salah satu kutipan dari drama korea yang baru banget saya coba tonton, yang juga merupakan hasil kutipan dari seorang tokoh yang saya lupa namanya:

Hidup bukan tentang kecepatan. Tetapi arah.
Jika arahnya salah maka kecepatan tidaklah berguna.
Maka jawaban hidup dapat ditemukan melalui arahan.

Boom.
Gue langsung mikir, bener juga ya.
Yang menarik adalah beberapa saat setelah saya menonton itu, saya tiba-tiba pengen buka Facebook, setelah itu tebak apa yang saya temukan? Bukan, bukan friend request dari cast nya, tapi saya ketemu video Felix Siaw dong.
Terus menariknya dimana, Tolili?

Nah itu dia, menariknya karena dia tidak menarik.. meuheuheuhue
*ngga deng*

Yang bikin saya sedikit terkejud adalah pembahasan yang sama yang diangkat oleh Felix Siaw dengan drama korea tadi. Apa jangan-jangan produser film dan Felix Siaw telah berkonsolidasi? Dan apa kah, --yah jadi panjang kan. Yang jelas, ini adalah konspirasi saudara-saudara..
Sebelum saya lupa, berikut saya kutip penjelasan dari Bapak Felix Siaw:

Hidup ini kan punya prinsip. Segala sesuatu ditentukan berdasarkan prinsip hidup. Apa yang dibeli, apa yang ngga kita beli. Kita punya duit kita kasi kemana, beli apa. Itu semua kan karena prinsip hidup. Kita berbuat sesuatu, ngga berbuat sesuatu. Itu pun karena prinsip hidup.

Coba, kalo kita dikasi kesempatan untuk naik kereta tercepat, ambillah Shinkansen misalnya, dikasi tiket gratis mau gak? Lah boleh kalo tujuannya bener, kalo tujuannya ke jurang masi mau?
Kalo tujuannya ke jurang, lebih cepet lebih bahaya. 
Kalo tujuannya ke jurang, kan makanan enak ngga ada gunanya. 
Kalo tujuannya ke jurang, ac yang dingin, toilet yang bagus ngga ada efeknya. 
Maka yang paling penting dikereta itu tujuannya.
Sama kaya halnya hidup, yang paling penting itu arah (tujuan) nya. Kalo tujuannya salah, semuanya pasti salah. Kalo tujuannya bener, yang lain insya Allah ikut bener.

Jadi begitu ya, intinya Felix Siaw dan Drama Korea tidak ada korelasinya.
Betul tidak?

*ujung-ujungnya jadi Aa Gym..



Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor