Olimpiade Bahasa Jepang

17.54
11 Maret 2012 (yaa, 11 maret.9 hari lagi menjelang hari kelahiran)

Hari ini ada olimpiade bahasa jepang. Sebenarnya aku mengikutinya hanya untuk mengetest bakat saja. Aku kira teman-teman lain juga banyak yang sepaham dengan ku. Tapi ternyata tidak. Jauh dari perkiraan. Teman-teman yang lain malah ada yang sudah berusaha mengahafal kanji-kanji dan segenap peraturan berbahasa yang di bagikan sensei (guru) Inong pada selembar kertas putih dibawahi tinta hitam. Aah. Aku sedikit merasa bersalah tidak mengeluarkan usaha sedikit pun.
Setelah sampai di sekolah yang dituju. Ya benar, kami sempat merasa kebingungan saat mencari alamat sma tersebut dan ternyata Alhamdulillah-sepertinya mereka paham bahwa sekolah mereka tak banyak yang kenal dengan lokasi nya,  jadi-mereka memasang spanduk tepat di gerbang sekolah. Aku ternyata telat. Paling tidak hanya beberapa menit. Kau tahu? Bahkan ada yang baru datang ke lokasi setelah 15menit acara (red-upacara) berlangsung. Dan akhirnya aku langsung ke barisan. Upacara nya lumayan lama, padahal apa yang diharapkan dari acara-yang cuma membuat lelah dengan berdiri setengah jam tanpa berbuat apa-apa dan akhirnya lama kelamaan kau pasti akan merasa ada yang mau keluar dari mulutmu lantaran kata sambutan dan pidatonya tak kunjung berakhir -itu? Upacara yang hanya sebagai formalitas, yang sebenarnya hanya membuang waktu.
Ya, seperti yang ku katakan. Acara yang membuang waktu itu lama-kelamaan membuat aku jenuh tingkat dewa. Dan akhirnya disaat yang benar-benar aku butuhkan, upacaranya pun berakhir, dan semua peserta dipersilahkan untuk masuk ke kelas.
Ternyata penderitaan ku belum berakhir kawan. Aku tidak menemukan teman se-almameter dengan ku. Ya, dengan kata lain aku sendiri di kelas ini. Nyaris tidak ada yang ku kenali. Bukan, bukan nyaris. Tapi memang tidak ada. Kau pasti taukan? Bagaimana rasanya berada di antara orang-orang yg tidak kau kenali selama lebih kurang satu jam tanpa saling menyapa satu sama lain. Miris benar. Belum lagi setelah soal dibagikan, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal dalam perut ku. Huh, soalnya begitu asoi. Mataku berkunang-kunang melihatnya. Dari sekitar 40 soal, hanya satu soal yang aku yakini benar. 39 sisanya. Kau tahu kan? Style menjawab soal sekarang. Apalagi kalau bukan feeling. Tapi di lain sisi aku menikmati cara menjawab soal seperti itu. Karena sudah lama aku tidak melakukannya. Kalau ujian di sekolah, mana berani aku menjawab asal-asalan? Harga diri taruhannya.

Comments

Popular posts from this blog

Acc

Doa

Pulang ngantor